- Saeful Toni (63) berjalan kaki dari Cikarang menuju Kebumen setelah uang ongkos mudiknya dicopet dua minggu lalu.
- Perjalanan lebih dari 300 kilometer tersebut ditempuh Saeful selama 14 hari hanya mengandalkan bantuan orang lain.
- Anggota Polres Ciamis, Aipda Agus Narto, membantu Saeful dengan membelikan tiket bus dari Terminal Banjar menuju Kebumen.
SuaraJabar.id - Di bawah terik matahari yang menyengat dan debu jalanan jalur selatan, raga senja Saeful Toni (63) terus dipaksa melangkah.
Mengenakan kaos kumal dan celana panjang yang mulai lusuh, pria asal Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen ini, tampak kontras di antara deru mesin kendaraan pemudik yang melaju kencang.
Bukan karena tak ingin naik bus, namun takdir berkata lain. Harapan Saeful untuk pulang dengan nyaman pupus di Terminal Cikarang dua minggu lalu. Uang receh yang ia sisihkan khusus untuk ongkos perjalanan digondol pencopet saat ia berjalan menuju terminal.
"Uang buat ongkos hilang dicopet. Padahal itu hasil kerja bangunan empat bulan di Cikarang. Untungnya, uang hasil kerja yang besar sudah saya transfer ke saudara di rumah untuk kebutuhan Lebaran," kenang Saeful dengan suara parau saat ditemui di Terminal Kota Banjar, Rabu (18/3/2026).
Baca Juga:Waspada Jalur Gelap! Wagub Jabar Kecewa Perbaikan Lampu Jalan di Sumedang Molor di Tengah Arus Mudik
Tanpa sepeser pun uang di saku, pria tua ini mengambil keputusan nekat yang sulit dibayangkan orang lain. Pulang ke Kebumen dengan berjalan kaki.
Jarak Cikarang ke Kebumen yang membentang lebih dari 300 kilometer ia tempuh dengan satu modal, yakni kerinduan pada keluarga.
14 Hari Bertahan di Jalanan
Dua minggu sudah Saeful menjadi "musafir" di jalur mudik. Sepanjang perjalanan, ia hanya mengandalkan belas kasihan orang asing untuk sekadar mengganjal perut.
Tas punggungnya yang tipis hanya berisi pakaian ganti dan sisa makanan pemberian warga yang iba melihat langkah gontainya.
Baca Juga:Warga Ciamis Tenang! Stok Beras Melimpah 30 Ribu Ton, Satgas Pangan Jamin Aman Hingga Usai Lebaran
Setiap kali malam menjemput dan kaki tak lagi sanggup menopang beban, Saeful menjadikan teras masjid atau musala sebagai tempat berteduh.
Baginya, aspal panas adalah kawan, dan rasa lelah adalah mahar yang harus dibayar demi merayakan Idul Fitri di tanah kelahiran.
Namun, langkah Saeful terhenti di wilayah Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis. Di sana, matanya yang sayu tertangkap oleh pandangan tajam seorang anggota Provos Polres Ciamis, Aipda Agus Narto, yang sedang berjaga di Pos Pelayanan.
Pertemuan dengan 'Malaikat' Berseragam
Aipda Agus Narto mengaku menaruh curiga melihat seorang pria lanjut usia berjalan sendirian dengan kondisi yang sangat kelelahan di tengah arus mudik.
Setelah didekati dan diajak bicara, Agus terperanjat mendengar pengakuan Saeful yang sudah berjalan kaki selama 14 hari.