- Kelangkaan gas Elpiji 3 kg di Sukabumi Selatan menyebabkan harga pengecer melonjak hingga Rp30.000 per tabung.
- Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sukabumi melakukan investigasi dan koordinasi intensif dengan Hiswana Migas dan SPBE.
- Penyebab kelangkaan adalah lonjakan permintaan akibat hari raya dan fenomena *panic buying* masyarakat setempat.
SuaraJabar.id - Dapur-dapur di pelosok Sukabumi Selatan kini tak hanya mengepulkan aroma masakan, tetapi juga keluh kesah. Sepekan terakhir, keberadaan tabung gas Elpiji 3 kilogram, atau yang akrab disapa "gas melon", seolah menjadi misteri.
Warga di Sagaranten, Cidolog, hingga Pabuaran harus memutar otak dan merogoh kocek lebih dalam demi memastikan kompor mereka tetap menyala.
Kelangkaan ini bukan sekadar isu di media sosial. Di tingkat pengecer, harga gas bersubsidi ini meroket tajam, menyentuh angka Rp30.000 per tabung. Angka yang jauh melampaui harga normal ini terpaksa ditebus warga karena tak punya pilihan lain.
Mendengar jeritan warga di wilayah selatan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi akhirnya angkat bicara.
Baca Juga:Insiden Dramatis di Citarik: Saat Deterjen Menaklukkan Si Jago Merah di Atas Truk Elpiji
Kepala Disdagin, Dani Tarsoni, memastikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan tengah bergerak cepat melakukan investigasi di lapangan.
“Kami sudah melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan Hiswana Migas. Meskipun informasi detailnya masih dalam proses, komunikasi terus berjalan,” ujar Dani saat dikonfirmasi pada Kamis (26/3/2026).
Langkah koordinasi ini tidak hanya berhenti di tingkat organisasi pengusaha migas, tetapi juga menjangkau hingga ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Dani menegaskan bahwa semua pihak terkait kini sudah menyadari kondisi darurat yang terjadi di Sukabumi Selatan.
Lantas, apa yang membuat pasokan gas subsidi ini tiba-tiba "menguap" dari pasaran? Menurut Dani, ada kombinasi faktor yang menciptakan badai sempurna kelangkaan ini. Libur panjang dan momen hari raya disinyalir menjadi pemicu utama melonjaknya kebutuhan masyarakat.
“Penyebabnya kompleks. Ada lonjakan permintaan karena momen hari raya dan cuti bersama. Bahkan, permintaannya naik hampir dua kali lipat dari biasanya,” jelas Dani.
Baca Juga:Ngeri! Mobil Muatan Gas Melon Terbakar Hebat di Jalur Palabuhanratu, Warga Ketakutan
Selain faktor musiman, Dani juga menengarai adanya fenomena panic buying di tengah masyarakat. Ketakutan akan kehabisan stok membuat warga membeli lebih banyak dari kebutuhan biasanya, yang justru memperburuk distribusi di lapangan.
Ketimpangan antara pasokan yang tersedia dengan kebutuhan yang melompat drastis inilah yang menyebabkan distribusi menjadi tidak seimbang.
Disdagin menjanjikan bahwa kondisi ini tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Komunikasi dengan Hiswana Migas terus ditingkatkan untuk segera menambah pasokan atau melakukan penyesuaian distribusi agar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan saat ini.
Artikel ini telah ditayangkan di website sukabumiupdate.com media jaringan Suara.com dengan judul "Gas LPG 3 Kg Langka di Sukabumi Selatan, Disdagin Ungkap Penyebab dan Langkah Penanganan"