- Puskesmas Banjar 3 memeriksa Titi Supiyati dan Andi Siswanto di Banjar pada Kamis (27/8/2026).
- Pemeriksaan menunjukkan Titi mengalami kolesterol tinggi serta diabetes, sedangkan Andi menderita luka terbuka dan saraf terjepit.
- Puskesmas Banjar 3 akan melakukan kunjungan rumah berkala serta membantu memfasilitasi proses rujukan medis lanjutan.
SuaraJabar.id - Kondisi Titi Supiyati (75) dan anaknya, Andi Siswanto (48), warga kurang mampu di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, Jawa Barat, mendapat perhatian setelah keduanya mengalami masalah kesehatan dan membutuhkan penanganan medis lanjutan.
Ibu dan anak tersebut selama ini lebih banyak terbaring di rumah kontrakan mereka di lingkungan Cimenyan, RT 03/RW 08. Keterbatasan kondisi dan dukungan keluarga membuat proses pengobatan keduanya tidak berjalan optimal.
Merespons kondisi tersebut, Puskesmas Banjar 3 mendatangi kediaman mereka untuk melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan penanganan medis.
Kepala Puskesmas Banjar 3, Sari Wahyu Ningrum, mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh tim kesehatan lansia. Keduanya juga mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Baca Juga:BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
"Dari hasil pemeriksaan, memang ditemukan keduanya ada gejala diabetes. Untuk ibunya sendiri kolesterolnya tinggi," kata Sari melansir Harapanrakyat--jaringan Suara.com, Kamis (27/8/2026).
Dari hasil pemeriksaan, Titi diketahui memiliki kadar kolesterol tinggi dan indikasi diabetes. Sementara Andi mengalami luka terbuka atau ulkus yang cukup luas akibat keterbatasan gerak tubuh, yang berkaitan dengan kondisi kelumpuhan dan saraf terjepit.
Menurut Sari, luka tersebut diperburuk oleh minimnya mobilitas sehari-hari. Kondisi seperti terlalu lama berada dalam satu posisi dan kurangnya aktivitas membuat otot kaki Andi mengalami penyusutan atau atrofi.
Andi sebelumnya telah mendapatkan tindakan medis di Rumah Sakit PMC. Ia juga sempat disarankan menjalani penanganan lanjutan di RS Margono Purwokerto. Namun, proses pengobatan terkendala keterbatasan keluarga yang dapat mendampingi secara rutin.
"Dari riwayat pengobatan sudah pernah dilakukan operasi di PMC. Memang disarankan untuk berobat lebih lanjut ke Rumah Sakit Margono, tetapi mungkin kendala tidak ada yang mengantar atau menunggu," ujarnya.
Baca Juga:Sempat Bersitegang Soal Jam Pelayanan, Kasus Senam Puskesmas Patrol Berakhir Damai
Sari menjelaskan, keluarga tetap berupaya memenuhi kebutuhan keduanya, termasuk menyediakan tempat tinggal. Namun, sebagian anggota keluarga bekerja di luar daerah bahkan di luar negeri sehingga tidak dapat mendampingi selama 24 jam.
"Beberapa anaknya ada yang di luar negeri, ada yang bekerja. Mungkin mereka juga punya keluarga lain sehingga ada keterbatasan dan tidak bisa 24 jam hadir untuk merawat," katanya.
Untuk memastikan kondisi keduanya tetap terpantau, Puskesmas Banjar 3 menyiapkan program kunjungan rumah atau home visit secara berkala. Petugas akan memberikan edukasi kepada keluarga mengenai perawatan, termasuk penanganan awal dan perawatan luka.
Tim medis juga akan memantau perkembangan kondisi kesehatan keduanya. Apabila diperlukan pemeriksaan atau rujukan lanjutan ke RS Margono, Puskesmas Banjar 3 siap membantu memfasilitasi proses tersebut.
"Insyaallah akan melakukan home visit. Kalau misalnya dibutuhkan rujukan lebih lanjut ke RS, kami minta nanti keluarga juga ikut mendampingi. Dari Puskesmas bisa membantu untuk proses rujukan," pungkas Sari.