- SMA Kemala Bhayangkara meluncurkan dua buku karya siswa kelas XI pada Minggu, 27 September 2026.
- Penerbitan buku melibatkan proses kurasi dan penyuntingan profesional selama sembilan bulan sejak bulan Februari lalu.
- Peluncuran buku bertujuan membangun budaya literasi serta mendorong orisinalitas pemikiran siswa di tengah perkembangan teknologi.
SuaraJabar.id - Memperingati Bulan Bahasa, SMA Kemala Bhayangkara Gunungsindur, Kabupaten Bogor, meluncurkan dua buku hasil karya para siswanya pada Minggu (27/9/2026).
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mendorong siswa untuk berani menuangkan pengalaman, ide, dan pemikiran mereka ke dalam bentuk tulisan.
Dua buku yang diluncurkan merupakan hasil pengembangan tugas pembelajaran siswa kelas XI. Buku pertama berupa kumpulan kolom dan opini berjudul Echoes of Heritage, sedangkan buku kedua merupakan antologi karya sastra bertajuk 'Suara Dari Masa Depan'.
Sebelum diterbitkan, seluruh tulisan siswa terlebih dahulu melalui proses kurasi dan penyuntingan yang melibatkan penulis profesional.
Baca Juga:Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong
Kepala SMA Kemala Bhayangkara, Hendri Adi, mengapresiasi keberanian para siswa dalam menghasilkan karya tersebut. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam menulis adalah keberanian untuk memulai.
"Halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dipikirkan dalam bentuk tulisan adalah memulai. Anak-anak ini berhasil melampaui itu dan hari ini kami disajikan dua buku karya pertama mereka," ujar Hendri kepada wartawan.
Hendri menjelaskan, buku Echoes of Heritage berawal dari penugasan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Para siswa diminta merefleksikan pengalaman ketika berinteraksi dengan budaya, kemudian mengembangkan pengalaman tersebut menjadi tulisan dalam bentuk opini.
Proses pembelajaran itu tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga mendorong siswa menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dinikmati oleh orang lain.
Baca Juga:Bikin Elus Dada! Anak di Gunungsindur Bogor Tega Aniaya Sang Ayah Hingga Meninggal
"Tidak hanya sekadar mempersiapkan dan menuangkan ide, tetapi bagaimana ide itu menjadi karya," katanya.
Menurut pihak sekolah, penerbitan kedua buku tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya literasi sekaligus membiasakan siswa menuangkan ide dan gagasan secara tertulis.
Proses penerbitan buku juga tidak berlangsung secara instan. Tahapannya dimulai sekitar Februari melalui kick-off proyek, dilanjutkan dengan proses penulisan, penentuan tenggat, pengumpulan naskah, kurasi, penyuntingan oleh editor, hingga pencetakan.
Keseluruhan proses tersebut berlangsung sekitar sembilan bulan.
Rentang waktu tersebut menjadi pengalaman penting bagi para siswa untuk memahami bahwa menghasilkan sebuah karya membutuhkan proses. Dari tugas menulis, gagasan mereka dikembangkan dan diseleksi sebelum akhirnya menjadi bagian dari buku yang diterbitkan.
Para siswa juga mendapat pengalaman bahwa tulisan yang mereka hasilkan dapat terus dikembangkan dan memiliki peluang untuk dibaca oleh khalayak yang lebih luas.