- Warga Cluster Coatesville Bogor berselisih pada Oktober 2026 akibat pembangunan gazebo di fasilitas umum yang dinilai terlalu besar dan mengganggu estetika.
- Pembangunan struktur tersebut memicu protes karena dikhawatirkan menurunkan nilai properti warga hingga empat puluh persen serta menimbulkan gangguan kesehatan.
- Warga menuntut evaluasi menyeluruh agar desain gazebo disesuaikan secara proporsional dan melibatkan pihak yang terdampak langsung dalam perencanaan.
Selain persoalan estetika dan kenyamanan, dampak pembangunan terhadap nilai properti menjadi salah satu kekhawatiran utama warga.
Yani mengaku telah berkonsultasi dengan pihak manajemen perumahan mengenai potensi dampak keberadaan bangunan tersebut terhadap harga jual rumahnya.
Berdasarkan penuturannya, ia mendapat informasi bahwa nilai properti di sekitar taman berpotensi mengalami penurunan.
“Saya sudah tanya sama manajemen... 'Kalau saya tanya nilai properti saya berapa, ini gimana Pak?' 'Wah itu pasti turun Bu Yani, kurang lebih bisa 30 persen hingga 40 persen. Kan dari segi material kita sudah dirugikan,” tegasnya.
Baca Juga:Braakk! Kecelakaan Elf dan Honda BR-V di Puncak Bogor, Satu Orang Meninggal Dunia
Meski demikian, perkiraan penurunan nilai properti sebesar 30 hingga 40 persen tersebut merupakan keterangan yang disampaikan Yani berdasarkan percakapannya dengan pihak manajemen.
Besaran penurunan nilai jual rumah tersebut masih memerlukan verifikasi melalui penilaian properti yang independen.
Dampak pembangunan, lanjut Yani, tidak hanya berkaitan dengan aspek visual dan finansial, tetapi juga kenyamanan, kesehatan, serta hubungan sosial antarwarga.
Ia menuding aktivitas konstruksi berlangsung pada waktu yang mengganggu kenyamanan penghuni, mulai sekitar pukul 05.30 WIB, pada hari libur atau akhir pekan, hingga malam hari.
Menurutnya, kebisingan pekerjaan konstruksi yang berlangsung bersamaan dengan tekanan akibat konflik turut memicu kambuhnya penyakit lambung yang dideritanya. Yani mengaku harus menjalani perawatan medis sebanyak dua kali.
Baca Juga:Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya
Di sisi lain, ia juga mengaku mengalami tekanan sosial setelah menyampaikan keberatan terhadap pembangunan tersebut.
Yani mengatakan dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan di grup komunikasi warga, bahkan disoraki ketika menyampaikan pendapat.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian warga lain yang juga merasa terdampak memilih tidak menyampaikan keberatan secara terbuka karena khawatir menghadapi tekanan sosial serupa.
Atas berbagai persoalan tersebut, Yani menyatakan warga terdampak menginginkan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan di lahan fasos-fasum tersebut.
Ia menegaskan, keberatan warga bukan berarti menolak keberadaan fasilitas publik. Mereka meminta agar kondisi taman dikembalikan seperti semula atau dilakukan penataan ulang sehingga fungsi ruang terbuka dan kenyamanan lingkungan tetap terjaga.
Apabila pembangunan gazebo tetap dilanjutkan, warga berharap desain dan ukurannya dibuat lebih proporsional, terbuka, tidak menghalangi pandangan, serta selaras dengan estetika rumah-rumah di sekitarnya.