SuaraJabar.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat (Jabar) telah menandai kota/kabupaten di Jabar yang perlu mendapatkan kewaspadaan ekstra terkait dengan ancaman bencana alam karena puncak fenomena La Nina di Indonesia.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Barat Dani Ramdan di Bandung, Selasa (13/10/2020), mengatakan wilayah Bogor, Sukabumi, kemudian merambat ke selatan Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran menjadi perhatian terkait kewaspadaan La Nina.
"Kemudian yang di utara Jabar itu yaitu Karawang, Kabupaten Subang karena punya muara Sungai Citarum, termasuk Bekasi dengan potensi sungai Bekasi itu akan berdampak juga. Lalu wilayah Bandung Raya di khususnya Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung," kata dia.
Dani mengatakan untuk kota/kabupaten yang memiliki kerawanan yang tinggi, pihaknya siapkan mitigasi dan logistik.
"Jadi kalau untuk logistik sudah kita rutin ya dalam setahun itu dua sampai tiga kali kita perkuat kota kabupaten. Kemarin menjelang kekeringan kemudian menjelang musim hujan kita dorong. Logistik kita itu provinsi 80 persennya ada di kota kabupaten di 27 didistribusikan. Nah yang 20 persen mana ada kabupaten yang ternyata habis, kita berikan dukungan lagi ke sana," kata dia.
Selain logistik, lanjut Dani, edukasi kebencanaan melalui mitigasi bencana dilakukan dan hal itu tentunya dengan menggaet pemerintah kabupaten terkait dan juga relawan.
"Provinsi Jawa Barat itu luasnya sama dengan Jawa Timur tapi kota kabupaten yang jauh lebih sedikit jadi memang kalau hanya mengandalkan BPBD tidak ter-cover," kata dia.
Oleh karena itu, pihaknya memiliki Program Desa Tangguh Bencana di mana setiap desa itu diberikan pelatihan oleh BPBD Provinsi Jabar.
"Selain perangkat desa juga Relawan Tangguh Tencana demikian juga Tagana punya relawan ada Kampung Siaga Bencana nah polanya berjenjang," kata dia.
Baca Juga: Protokol Kesehatan Ketat Reduksi Potensi Penyebaran Covid-19 di Bioskop
Dani mengatakan BMKG memprakirakan Indonesia pada umumnya masuk dalam fenomena La Nina dan sebagian akan mulai masuk musim hujan Oktober-November ini kemudian nanti puncaknya Januari Februari lalu mulai turunnya di antara Maret-April 2020.
"La Nina ini fenomenanya adalah intensitas hujannya tinggi jadi nanti akhir tahun sampai Januari, Februari akan sangat lebat hujan dan biasanya kalau di kita hujan lebat itu berimplikasi pada longsor dan banjir atau bencana hidrometeorologi," ujar Dani.
Pihaknya mengakui dengan adanya La Nina potensi kebencanaan memang lebih tinggi daripada tahun lalu.
"Namun ya mudah-mudahan dengan kewaspadaan yang meningkat ini, sisi dampak bisa kita kurangi karena kan sebenarnya dampak dari suatu bencana itu bukan hanya potensi tapi yang paling penting adalah kesiapan kita menghadapi. Kalau mitigasi bisa kita lakukan dari sekarang mungkin dampak bisa kita eliminir," ujar Dani.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun
-
Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya
-
Gara-Gara Utang Rp30 Ribu, Dua Pria di Sukabumi Duel Pakai Golok, Satu Luka Berat
-
Pemkab Garut Tetapkan Status Tanggap Darurat Kebakaran TPA Pasirbajing
-
BRILink Agen Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas Masuk Kategori Jawara dan Juragan