SuaraJabar.id - “Korban diancam fotonya yang tidak memakai jilbab akan disebarluaskan. Kalau tidak mau foto itu disebarkan, maka korban harus menemui pelaku kemudian diminta untuk berhubungan seksual. Ini terjadi selama 4 tahun.”
Dinda, tentu saja bukan nama sebenarnya, siswi SMA di Kota Bandung, sangat ketakutan mendengar dering ponsel pintarnya. Ini disebabkan oleh trauma berkepanjangan yang membuat ia kerap sangat cemas melihat gawainya.
Sesekali tangannya berkeringat, mendadak panik, dan jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Ketakutan berlebihan menyerang psikis remaja belia ini.
Sudah sejak April 2020, sebulan Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, Dinda membuat laporan kepada Komini Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) untuk mencari perlindungan atas ancaman demi ancaman dari seorang yang merupakan mantan teman dekat yang ia kenal di internet. Dinda menjadi korban kekerasan berbasis gender online (KBGO).
“Saya merasa cemas berlebihan, terus berkeringat, kadang-kadang takut yang berlebihan, sedih yang berlebihan, cepat panik,” tutur Dinda, yang diceritakan kembali oleh Koordinator Jaringan Relawan Pendamping Kasus dari SAPA Institute Sugih Hartini kepada Suara.com belum lama ini.
Dinda oleh Komnas Perempuan lalu dirujuk kepada SAPA Institute untuk mempermudah proses konsultasi dan pendampingan. Awalnya Dinda berencana untuk meminta bantuan hukum atas kasus ancaman penyebaran konten intim non-konsensual oleh pelaku. Gambar atau video intim miliknya akan disebar ke media sosial jika ia menolak kembali berhubungan dengan pelaku.
Karena masih di bawah umur, Dinda harus ditemani orang tuanya untuk melakukan pelaporan. Akhirnya jalur hukum diurungkan, karena ia tidak ingin kasusnya diketahui oleh orang tuanya. Dinda pun memilih untuk mendapat bantuan pendampingan psikologis untuk menghilangkan trauma.
Awal perkenalannya dengan pelaku dari aplikasi dating online dengan saling mengirim pesan. Hubungannya berlanjut cukup dekat selama satu tahun. Setelah merasa hal tersebut sudah tidak sehat, Dinda akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pelaku. Setahun berselang, pelaku muncul kembali dengan ancaman-ancaman penyebaran konten intim jika ia tidak mau berhubungan kembali dengannya.
Dinda berada dalam cengkeraman pelaku dengan penuh ancaman selama setahun, sebelum ia berhasil mengadu kepada Komnas Perempuan. Selama berhubungan ia belum pernah bertemu secara langsung dengan pelaku di dunia nyata, bahkan alamat lengkap dan identitas pelaku tidak diketahui.
Hal serupa dialami Putri, juga bukan nama sebenarnya. Menurut Sugih Hartini yang mendampinginya, mahasiswi di Kota Bandung ini mengalami bentuk-bentuk intimidasi yang hampir sama dengan Dinda. Ia mendapat ancaman penyebaran konten intim di dunia maya jika tidak menuruti pelaku.
Baca Juga: Gereja Pecat Pendeta Suarbudaya, Diduga Lakukan Kekerasan Seksual
“Yang mereka rasakan saat ini, traumanya sampai pada mendengar dering HP itu takut, melihat HP itu takut. Terus gemeteran. Ada satu orang yang merasa terkena gangguan kesehatan kejiawaan. Mereka sangat takut jika foto atau video itu disebar, tiba-tiba orang tuanya tahu dan takut ketahuan semua orang. Itu yang buat korban sangat takut dan buat panik berlebihan,” ungkap Koordinator Jaringan Relawan Pendamping Kasus di SAPA Institute ini.
Awalnya, lanjut Sugih, chatting biasa. Terus, lama-lama minta foto atau video sampai yang lebih intim. Rata-rata kedua korban, Dinda dan Putri, mengalami hal atau pola yang sama. Kendati begitu, Sugih tidak tahu apakah pelaku adalah orang yang sama atau bukan.
Pandemi, kasus KBGO meningkat drastis di Kota Bandung
Pengaduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di ranah siber terus meningkat. Catatan Komnas Perempuan menunjukkan kasus KBGO yang diikuti dengan pelecehan seksual naik sangat signifikan.
Berdasarkan data yang diterima Suara.com dari Komnas Perempuan, peningkatan angka kasus kekerasan berbasis gender pada ranah online dari tahun ke tahun dapat dilihat sejak tahun 2017 yang mulanya berada di angka 16 kasus, 2018 yakni 97 kasus, melejit naik di tahun 2019 dengan 281 kasus, dan pada 2020, terjadi peningkatan tiga kali lipat, tercatat hingga awal Oktober ada 659 kasus.
Di Kota Bandung aduan kasus kekerasan seksual mengalami lonjakan selama pandemi. Pasundan Durebang Women’s Crisis Center menerima pengaduan kekerasan seksual pada rentang usia 18 hingga 30 tahun. Bentuk kekerasannya beragam, di antaranya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan berbasis gender online, dan pelecehan seksual lainnya.
Direktur Pasundan Durebang Women’s Crisis Center Ira Imelda mengungkapkan lonjakan terjadi dalam kurun waktu Januari hingga November 2020. Pihaknya mencatat ada 46 kasus kekerasan yang ditangani. Salah satu kasus yang tercatat mengalami kenaikan cukup tinggi yakni KBGO, 15 kasus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Farhan Tegaskan Penghuni Kos Bandung Tak Boleh Tertutup: Bukan KTP Sini Pun Wajib Terdata RW
-
Tertibkan 63 Bangunan Liar di Dipatiukur, Walikota Bandung: Sesuai Perda, Tak Ada Ganti Rugi
-
Buntut Kasus Penganiayaan di Bandung, Dedi Mulyadi: Seluruh Kontrakan Wajib Terdaftar Online
-
Bukan Hanya Disiksa, Korban YTR Diduga Dipaksa Bertato 'Yuvita Love Taufik' dan Wajah Pelaku
-
Penganiaya Wanita di Bandung Diciduk Polisi, Kapolda Jabar: Pelaku Negatif Narkoba