Ari Syahril Ramadhan
Selasa, 02 Februari 2021 | 11:07 WIB
Terowongan Kereta Cepat Jakarta Bandung di Gunung Bohong yang dibuat menggunakan metode blasting yang diduga sebagai penyebab kerusakan rumah warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 13, Desa Laksanamekar, Kabupaten Bandung Barat (KBB). [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

SuaraJabar.id - Pihak PT KCIC buka suara perihal aktivitas peledakan atau blasting untuk membuat tunnel atau terowongan 11 di Gunung Bohong sebagai trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Corporate Secretary PT KCIC, Mirza Soraya mengklaim, dampak yang ditimbulkan metode blasting telah teruji dan secara teknis sangatlah rendah karena kekuatan ledakannya bisa diatur untuk membuat retakan terstuktur dan terbatas di dalam terowongan.

“Sehingga dapat dikendalikan dengan aman. Ini sangat berbeda dengan metode blasting yang dilakukan pada kegiatan pertambangan yang harus membuat retakan batu massif dengan bongkahan sekecil mungkin. Metode ini digunakan untuk areal batuan keras di antaranya batu andesit,” ujar Mirza kepada Suara.com melalui surat elektronik, Selasa (2/2/2021).

Dampak yang timbul dari aktivitas blasting, kata dia, berupa kebisingan dan getaran. Adapun berdasarkan hasil ujicoba blasting yang dilakukan bersama PT LAPI ITB dan PT Dahana (Persero), tingkat kebisingan dan getaran yang dihasilkan jauh berada dibawah ambang batas yang diperkenankan.

Sehingga, kata Mirza, tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Untuk meminimalisir dampak, juga dipasang peredam suara dan pengawasan dari berbagai pihak guna menjamin kemanan terbaik.

Namun pernyataan tersebut seolah berbanding terbailk dengan kondisi di lapangan. Khususnya di Kompleks Tipar Silih Asih RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tahun 2019 lalu, aktivitas ledakan dari tunnel 11 menyebabkan rumah-rumah warga mengalami kerusakan, seperti retakan pada dinding dan lantai.

Mirza mengatakan, untuk dampak negatif seperti kerusakan tersebut sejak awal uji coba peledakan untuk membuat terowongan 11 pihaknya sudah menawarkan perbaikan dan kompensasi kepada masyarakat di sekitar.

Kemudian, dirinya mengklaim sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat guna memastikan seluruh prosesnya mengacu kepada kaidah dan aturan yang berlaku.

“Untuk warga yang terdampak pada saat pembangunan dan bukan karena sebab lain, tentu saja kami sangat mengedepankan musyawarah dan mufakat untuk menyelesaikan bersama,” tuturnya.

Baca Juga: Kisah Wisata Lembang dan KBB Babak Belur Dihantam Pandemi Covid-19

Mirza mengklaim untuk saat ini dampak getaran dan kebisingan dari aktivitas pembuatan tunnel 11 dengan panjang 1,1 kilometer, dengan diameter 12,6 meter itu semakin tidak ada karena lokasi titik blasting semakin jauh di dalam terowongan.

“Saat ini (progress) sudah mencapai 62 persen dan kami menargetkan dalam 4 hingga 5 bulan kedepan telah tuntas ditembus,” tandas Mirza.

Sebelumnya diberitakan, Dinding rumah warga di Kompleks Tipar Silih Asih, RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami keretakan. Kerusakan ini diakibatkan penggunaan metode peledakan atau blasting pada pembuatan terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Gunung Bohong.

Seorang warga menunjukan retakan rumah akibatnya ledakan pembuatan Tunnel 11 yang kini sudah Ditinggalin pemiliknya. [Suara.com/Ferry Bangkit]

Dampak penggunaan metode blasting dirasakan warga pada 2019 lalu. Kuatnya getaran dari ledakan bahan peledak yang digunakan untuk menembus Gunung Bohong membuat dinding rumah mereka mengalami keretakan.

Seperti diketahui, Gunung Bohong dijadikan objek trase KCJB oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang menjadi tunnel 11. Gunung tersebut coba ditembus menggunakan metode peledakan atau blasting, yang dilakukan subkontraktor yakni PT CREC.

Lokasi proyek ini cukup dekat dengan pemukiman warga di Kompleks Tipar Silih Asih.

Load More