SuaraJabar.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun menyebut belum ada aktivitas Sesar Lembang yang terdeteksi sejak 2012 hingga sekarang.
Hal itu disampaikan Kepala BMKG, berdasarkan data hanya menunjukkan adanya aktivitas gempa Sesar Lembang pada 2010-2012.
Pada periode itu, tercatat ada satu gempa yang cukup merusak yakni gempa di Cisarua pada 28 Agustus 2011.
“Dalam gempa itu ada 384 rumah rusak,” jelasnya dalam webinar bertajuk Sesar Lembang, Potensi Bencana di Balik Pesona Panorama pada Jumat (19/2/2021) dilansir dari Ayobandung.com--jaringan Suara.com, Sabtu (20/2/2021).
Lokasi tepatnya ialah di Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Desa Pasirhalang, dan Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Gempa saat itu berkekuatan 3,3 M.
“Sejarah gempa merusak lainnya yaitu Gempa Cihideung Juni 2003 berkekuatan 5,4 M,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, saat itu seismograf (alat deteksi gempa) baru ada 6 yakni di Parongpong, Tangkuban Parahu, Ciater, Cibodas, LEM, dan Cimenyan. Namun, saat ini seismograf yang terpasang sudah ada 16.
Teguh menyoroti banyaknya gedung sekolah, perkantoran, hotel, sarana wisata, industri, dan sentra ekonomi yang terletak di sepanjang jalur Sesar Lembang. Sementara masyarakat masih kurang memahami bahaya gempa dan mitigasinya, serta jumlah bangunan tahan gempa masih sangat minim.
“Kualitas bangunan rumah kebanyakan belum memenuhi standar aman gempa,” ujar dia.
Teguh menjelaskan, Sesar Lembang terbagi menjadi 3 bagian yakni barat, tengah, dan timur. Bagian barat membentang dari Padalarang- Cisarua, bagian tengah membentang dari Cisarua-Cibodas, dan bagian barat membentang dari Cibodas-Manglayang.
“Sesar Lembang merupakan kemenerusan ujung utara Sesar Cimandiri,” tuturnya.
Sementara itu, kata dia, Mudrik R Daryono (2016) membagi Sesar Lembang menjadi 6 bagian, yakni Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundang, dan Batu Lenceng.
Guru Besar Ilmu Geoteknik Universitas Parahyangan Prof Paulus P Rahardjo menambahkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperlihatkan, Sesar Lembang bergeser 1-2 mm per tahun.
Gerakan ini menurutnya relatif kecil bila dibandingkan dengan Sesar Palukoro yang aktif pada 2018 di Palu. Sesar itu diketahui bergerak 38 mm per tahun.
“Kemudian aktivitas Sesar Lembang terdeteksi bertambah menjadi 3-5,5 mm per tahun. Hal ini menjadi ancaman yang baru,” ucap Paulus dalam kesempatan yang sama.
Berita Terkait
-
BMKG Bunyikan Alarm Dini Peringatan Hujan di Jabodetabek Hari Ini
-
Sebulan Lebih Pascagempa, 23.578 Warga NTT Masih Mengungsi
-
Respons Kepala BMKG soal Munculnya Daratan Baru di Anak Krakatau dan Potensi Tsunami
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Cerah Berawan hingga Hujan Ringan
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Mobilitas Makin Fleksibel, BRI Infinite Prioritas Tawarkan Ekstra 27.000 GarudaMiles
-
Buntut Skandal Kamar Mewah, Bangunan Fasilitas Khusus di Lapas Cibinong Akhirnya Diratakan
-
Temuan Anyar Sidak DPR di Lapas Cibinong: Ada Bangunan Tanpa Izin dan Krisis Tenaga Kesehatan
-
13 Rumah Terdata Cuma 3 Milik Negara, DPR Soroti Ketimpangan Aset - Isu Jual Beli di Lapas Cibinong
-
Konflik Keluarga Berujung Kebakaran, Dua Rumah di Cianjur Ludes