SuaraJabar.id - Belum selesai pemadaman di kilang minyak RU VI Balongan Indramayu, satu tangki kembali memunculkan api. Munculnya titik api itu, diketahui pada Kamis (1/4/2021) malam.
Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Erdi Ardimulan Chaniago membenarkan timbulnya kembali titik api. Ia mengatakan, titik api tersebut tidak sebesar sebelumnya.
"Intensitas api-nya kecil. Sudah dalam penanganan, saat ini masih dalam pemadaman," kata Erdi, via pesan singkat, Jumat (2/4/2021).
Belum diketahui penyebab api kembali menyebar. Namun jalanan di sekitar kilang Balongan kembali ditutup.
Upaya pemadaman pun langsung dilakukan pihak pertamina bersama pemerintah setempat.
Sementara itu, data dari BPBD Jabar diketahui dalam insiden meledaknya kilang minyak Pertamina itu, terdapat 30 orang yang mengalami luka ringan. Beberapa di antaranya masih dalam perawatan.
"Untuk korban luka berat ada enam orang. Mereka masih di rawat di RSPP, Jakarta," kata Kasi Kedaruratan BPBD Provinsi Jawa Barat Hadi Rahmat, saat dikonfirmasi terpisah, di waktu yang sama.
Untuk pengungsian, Hadi menyebutkan saat ini ada 932 orang yang mengungsi imbas dari kebakaran tersebut. Mereka ditempatkan di Pendopo Kabupaten Indramayu, Gor Bumi Patra, dan Masjid Islamic Center Indramayu.
Sebelumnya, Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Eksekutif Nasional, Dwi Sawung menilai, standar kerja PT Pertamina mesti diperbaiki.
Baca Juga: KAHMI Minta Polda Jabar Usut Peristiwa Kilang Minyak Pertamina di Balongan
Selain karena ledakan kilang minyak di Balongan, Indramayu, insiden yang membawa kerugian besar semacam ini terjadi bukan hanya sekali. Seperti tumpahan minyak di Balikpapan.
Peristiwa yang berulang membuat pihaknya mempertanyakan sistem pencegahan kecelakaan maupun budaya kerja atau HSE (health, savety, environment) atau K3 (kesehatan, keselamatan, keamanan lingkungan) di Pertamina.
"Perbaiki standar kerja di Pertamina," ucap dia dikutip dari Suara.com, Rabu (31/3/2021).
Dia menyayangkan jatuhnya korban dalam peristiwa ledakan kilang minyak Pertamina di Balongan.
Seharusnya, ujar dia, cukup waktu untuk mengevakuasi warga sebelum ledakan tepat ketika bau gas menguar.
"Terciumnya bau gas/uap sebelum ledakan menunjukan terjadinya kebocoran dalam sistem kilang minyak balongan. Seharusnya cukup waktu untuk mengevakuasi warga sebelum terjadi ledakan dan kebakaran," paparnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Dihadang Barikade Polisi, Massa Mahasiswa Tertahan di Senayan Park Saat Menuju Gedung DPR
-
Bukan di DPR, Front Mahasiswa Nasional Pilih Demo di Istana untuk Sampaikan 10 Tuntutan
-
Botok: Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Desember, Dasco, Saan, dan Cucun Siap Mundur
-
Hakim Tolak Perlawanan Yaqut Cholil Qoumas, Sidang Korupsi Kuota Haji Berlanjut!
-
Meski Diterima Pimpinan DPR, Botok Pati Pastikan Aksi 27 Agustus Tetap Lanjut
Terkini
-
Miris! Tak Tercover Bantuan, Ibu dan Anak Terbaring Sakit di Rumah Kontrakan Banjar
-
Hampir Tiap Pekan Ada Laporan, ODGJ Mulai Kepung Ruang Publik Cimahi?
-
Komitmen Nyata BRI untuk Ekonomi Kerakyatan, Dirut BRI Raih Bakti Koperasi Pradana Nayaka
-
Lima Kios Pasar Andir Garut Hangus Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
-
Peta Politik 2026 Bergejolak, Ini 6 Temuan Krusial Survei Tempo Data Science