SuaraJabar.id - Banjir kotoran sapi yang terjadi di kawasan permukiman penduduk Kampung Sukahaji RT 01/RW 01, Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB) disebut karena tersumbatnya saluran air di kawasan hulu.
Persoalan tersebut dipastikan, setelah pihak pemerintah desa bersama unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas mendatangi perkampungan yang terdampak serta menelusuri saluran air di kawasan tersebut.
"Ada rumor kalau banjir kotoran sapi itu sengaja dibuang saat hujan, tapi pas kita cek ada gorong-gorong (saluran air) yang tersumbat jadinya meluber saat hujan," kata Kepala Desa Kayuambon Ayi Rohayati saat dihubungi Suara.com pada Senin (30/8/2021).
Ayi menyebutkan, kotoran sapi itu buangan dari daerah yang di atasnya, seperti Bukanagara, Desa Pagerwangi. Di daerah tersebut memang terdapat banyak peternak sapi, sedangkan di desanya pemilik sapi bisa dihitung dengan jari.
Saluran air tersebut tertutup ranting dan sampah, akhirnya warga Kayuambon yang terdampak.
Namun pada saat kejadian petugas dari KPSBU Lembang dan masyarakat Pagerwangi juga turun membersihkan saluran yang tersumbat.
"Saluran air yang tersumbat sudah dibersihkan, sekarang udah lancar. Supaya gak terulang, sebaiknya saluran air yang masih terbuka itu juga dipasang gorong-gorong," katanya.
Terpisah, pakar lingkungan hidup Thio Setiowekti meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB harus terjun mengusut apakah peternakan sapi itu memiliki amdal atau tidak.
Termasuk petugas Satgas Citarum Harum juga harus turun mengingat drainase pembuangan limbah tersebut bermuara ke Cikapundung.
Baca Juga: Puluhan Rumah Warga di Lembang Dibanjiri Kotoran Sapi
"Petugas terkait harus turun, pemerintah desa, DLH, dan Tim Satgas Citarum Harum. Kalau peternakan sapi yang jadi penyebab banjir itu sengaja membuang kotorannya ke drainase (sungai) maka termasuk tindak kejahatan lingkungan," ujarnya.
Thio mengatakan, pencemaran lingkungan yang dilakukan secara sengaja bisa dianggap kejahatan. Termasuk kepada tindak pidana kejahatan lingkungan karena melanggar UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Terlebih ada indikasi peternak sapi karena keterbatasan lahan yang dimiliki, akhirnya membuang kotoran ke saluran air atau sungai.
Jika setiap keluarga memiliki minimal lima ekor sapi dan setiap ekornya perhari membuang kotoran sekitar 20-30 kilogram, berapa puluh ton dalam sehari yang dibuang ke sungai.
"Aparat kewilayahan dan Satgas Citarum Harum juga harus melakukan pembinaan. Sebab cara membuang kotoran sapi bagi warga sudah menjadi 'kultur' dari dulunya seperti itu (ke sungai). Itu kan limbahnya mengalir ke Cikapundung terus ke Citarum," katanya.
Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Empat Sekolah di Bandung Dapat Dukungan Program Literasi, Siswa Dikenalkan Mitigasi Bencana
-
Sukabumi Rawan Keracunan Pangan, Dinkes Minta Dapur MBG Perketat Pengawasan
-
Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari
-
Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan
-
Ancam Hukuman 15 Tahun Penjara, Polisi Bekuk Pelaku Pembacokan Acak Suporter Persib di Bogor