Scroll untuk membaca artikel
Ari Syahril Ramadhan
Kamis, 16 September 2021 | 09:23 WIB
ILUSTRASI sinden-12 Pesinden Melantunkan Tembang 'Ladrang Gajah Seno'. [Suara.com/Hiskia Andika Weadcaksana]

Aip menuturkan, dari cerita yang berkembang di masyarakat, Nyai Sinden berkebaya merah itu dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan yang dikenal dengan Jembatan Sarongge, di Kampung Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya pada zaman penjajahan Belanda.

Lantaran kematiannya yang tidak wajar itu, arwah Nyai Sinden Neng Syarifah konon kerap menampakkan diri kepada pengendara yang melintasi Jalan Gentong.

Bahkan tak jarang meminta tumpangan kepada pengendara dan minta diturunkan di sekitar jembatan atau tempat yang sunyi.

"Kata para sopir yang pernah melihat dan ditumpangi Nyai Sinden, kendaraan menjadi terasa berat ketika menaiki tanjakan," ucapnya.

Baca Juga: Truk Kontainer Bermuatan Daging Terguling di Cikupa, Tutup Jalan hingga Sebabkan Kemacetan

Ia menyebut kisah Nyai Sinden Neng Syarifah tersebut cukup familiar di kalangan warga Gentong.
"Dari cerita orang tua, Nyai Sinden Neng Syarifah bersama grup ronggengnya dikubur hidup-hidup dijadikan tumbal," ungkapnya.

Ia menyebut kalau Nyai Sinden dulu kerap menampakan diri dengan pakaian serba merah ke pengendara dan meminta tumpangan. Kalau tidak diajak pasti hal buruk menimpa kendaraan dan terjadi kecelakaan.

"Jadi kalau sopir yang sudah tau tentang kisah Nyai Sinden biasanya akan melemparkan rokok atau uang receh pada saat melintasi jembatan di Gentong Bawah," ucapnya.

Aip menuturkan, kalau sekarang jarang terdengar Nyai Sinden menampakan diri ke pengendara yang melintasi Jalur Gentong.

"Kalau pengendara yang tidak sopan, di jalan ketawa-ketawa suka terjadi kecelakaan," ungkapnya.

Baca Juga: Tim Medis Coba Ungkap Misteri Kematian Massal Burung Pipit di Balai Kota Cirebon

Aip mengaku, dirinya masih ada ikatan saudara dengan sosok lain yang menjelma sebagai harimau dan menikahi Nyai Sinden Neng Syarifah secara gaib.

Load More