SuaraJabar.id - Pemulihan ekonomi di Kota Bandung, Jawa Barat disebut kembali melambat akibat adanya lonjakan kasus COVID-19.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung Ema Sumarna, Rabu (3/3/2022). Menurutnya, lonjakan kasus COVID-19 membuat berbagai sektor usaha seperti hotel, restoran dan cafe kembali diperketat dan dikurangi kapasitasnya.
Hal tersebut kata dia, sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 15 Tahun 2022 tentang PPKM level 3 di Kota Bandung.
"Pengetatan misalnya MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) nah ICE nya ini kelihatannya untuk sementara di pending. Meski M nya masih bisa berjalan, tapi dengan kapasitas yang tidak banyak. Kenapa saya mengungkap hal ini, karena ada korelasi dengan persoalan ekonomi," ujar Ema.
Menurut Ema, penurunan kembali kapasitas berbagai sektor tersebut tak lain akibat diberlakukannya PPKM Level 3 di Kota Bandung. Seperti Hotel yang mengandalkan penghasilan tambahan dari MICE.
"Kalau sekarang untuk MICE nya hilang sementara ini, meetingnya juga berkurang dari kapasitas maksimal 3.000 hanya dibatasi 250 maka saya katakan pasti ada pengaruh, nah ini pun berlaku untuk yang lain," lanjutnya.
Ema melanjutkan, pengurangan kapasitas pengunjung mal yang menurun kembali ke angka 50 persen serta pembatasan pengunjung restoran, cafe dan hiburan sangat berdampak terhadap penerimaan pajak Kota Bandung.
"Otomatis di saat pengunjung semakin berkurang kan potensi peluang pendapatan juga logika sederhana nya berkurang. Itulah yang akan sedikit memberikan pengaruh memperlambat pergerakan ekonomi di Kota Bandung," bebernya.
"BOR (Bed Occupancy Rate) kita juga sekarang alhamdulillah sudah mulai ada penurunan. Positivity rate kita juga menurun, mudah-mudahan dalam satu bulan ini kondisinya sudah jauh lebih baik dari hari ini," pungkasnya.
Baca Juga: Meski Tak Bisa Disamakan dengan di Bali, Peranyaan Nyepi di Bandung Tetap Berjalan Kondusif
Untuk diketahui, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung pada 2020 mencapai Rp 7,2 trilyun sedangkan untuk tahun 2021 ditargetkan Rp 2,7 trilyun dari 9 sektor mata pajak.
Berita Terkait
-
Persib Bandung dan Federico Barba Resmi Berpisah
-
Momen Langka Adam Alis hingga Ajat Sudrajat Berbagi Lapangan, Reuni Lintas Generasi Persib Bandung
-
Bomber Andalan Persib Jagokan Cristiano Ronaldo Angkat Trofi Piala Dunia 2026, Selain Brasil
-
Usai Hotel Sultan, Lapangan Golf Ottolima di Senayan Diminta Dievaluasi
-
Hotel Sultan Dieksekusi, Dasco Minta Kemensetneg Akomodir Nasib Para Karyawan
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
6 Fakta Tuntutan Mati Terdakwa Ririn, Pembunuh Satu Keluarga di Indramayu
-
Habisi Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan di Indramayu, Terdakwa Ririn Dituntut Hukuman Mati
-
Bupati Sukabumi Pecat Kepala Desa Babakanjaya Terkait Dugaan Penyimpangan APBDes
-
Tak Cukup Satu Tersangka, Pengacara Minta Polres Sukabumi Kota Tahan BHW dan Buru Penerima Video
-
Mahasiswa Bandung Demo Kritik MBG dan Ekonomi, Dedi Mulyadi: Enggak Ada Problem, Sudah Biasa