Andi Ahmad S
Rabu, 06 Mei 2026 | 17:11 WIB
Sejumlah Ibu-ibu di Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal Menolak Pembangunan fasilitas pengolahan sampah [SuaraBogor/Warga]
Baca 10 detik
  • Warga Kampung Munjul, Bogor menolak pembangunan fasilitas PSEL karena khawatir terhadap dampak lingkungan dan kurangnya sosialisasi.
  • Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor mendesak pemerintah kota segera melakukan sosialisasi menyeluruh kepada seluruh masyarakat terdampak.
  • Teknologi PSEL perlu dijelaskan kepada warga agar mereka memahami perbedaan sistem pengelolaan sampah modern dengan TPA konvensional.

SuaraJabar.id - Sejumlah emak-emak di Kampung Munjul, Kayumanis, Tanah Sareal Kota Bogor, Jawa Barat menolak dengan keras pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Sejumlah warga di Kayumanis tersebut kekhawatiran dampak kesehatan dan lingkungan, serta merasa minimnya sosialisasi soal program fasilitas PSEL tersebut.

Menanggapi hal itu Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi, menegaskan bahwa sosialisasi kepada masyarakat sekitar Kayumanis harus dilakukan lebih gencar dan menyeluruh.

Meskipun kata dia untuk MoU dari Pemerintah Pusat antara Kota Depok dan Kota Bogor sudah selesai.

Ahmad Aswandi mengonfirmasi bahwa dalam pertemuan di Balai Kota beberapa waktu lalu yang mengundang perwakilan tokoh-tokoh masyarakat dan anggota dewan dapil Tanah Sareal, pihak DPRD telah mengingatkan eksekutif atau Pemkot Bogor.

"Memang MoU dari pusatnya sudah selesai dari Kota Depok dan Kota Bogor, cuma kita mengingatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar Kayumanis yang akan digunakan untuk PSEL itu diundang ke Balai Kota, mereka sosialisasi pertama diundang juga dewan-dewan dapil Tanah Sareal, lagi-lagi kita mengingatkan kepada eksekutif atau pemerintah dalam hal ini untuk tadi melaksanaan sosialisasi ke warga benar-benar menerima manfaatnya dari warga," ujar Ahmad Aswandi, kepada wartawan belum lama ini.

Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi [Andi Ahmad S/Suara.com]

Meskipun dalam pertemuan tersebut perwakilan tokoh-tokoh tidak keberatan, mereka tetap meminta sosialisasi yang lebih luas lagi di wilayah yang melibatkan banyak stakeholder atau masyarakat umum.

Ahmad Aswandi memahami mengapa masyarakat masih memiliki kekhawatiran. "Dulu kan sistem tempat pembuangan sampah yang dibenak pikiran masyarakat bau sampah kotor bau," katanya.

Untuk diketahui, kata dia PSEL adalah teknologi modern yang jauh berbeda dari TPA konvensional. PSEL mengolah sampah menjadi energi listrik melalui proses yang seharusnya lebih higienis dan terkontrol, meminimalkan bau dan dampak lingkungan.

Baca Juga: 'Nggak Ada yang Gitu-gitu', Respons Singkat Dedie Rachim Justru Tambah Kekecewaan Warga Kayumanis

"Hari ini kan kita pakai teknologi dan itu itu harus disosialisasikan," tegas Aswandi.

Desakan dari Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor ini menunjukkan komitmen legislatif untuk mengawal kebijakan Pemkot agar berjalan transparan dan melibatkan partisipasi publik.

Dia menambahkan, Pemkot Bogor diharapkan dapat segera menindaklanjuti masukan dari DPRD ini dengan menggelar sosialisasi yang lebih masif dan komprehensif, tidak hanya kepada tokoh, tetapi juga seluruh masyarakat terdampak.

Load More