SuaraJabar.id - Makanan khas Sumatera Barat, rendang berhasil mendudui peringkat pertama dalam World's 50 Delicious Food menurut survei yang digelar CNN pada 2011 lalu. Namun rendang tak hanya menyandang predikat makanan terenak di dunia, rendang yang berhasil mengalahkan sushi khas Jepang ini juga kerap ditemukan sebagai makanan untuk bantuan korban bencana.
Pada gempa Palu yang terjadi pada 2018 lalu misalnya, masyarakat Sumatera Barat berbondong-bondong memasak dan mengirimkan rendang untuk korban gempa di daerah itu.
Kini saat ribuan warga Cianjur, Jawa Barat terdampak gempa berkekuatan magnitudo 5.6 yang terjadi pada Senin (21/11/2022) lalu, warga Sumbar juga berbondong-bondong memasak rendang untuk korban gempa Cianjur.
Para personel BPBD Sumbar misalnya. Sejak Selasa (22/11) mereka sudah menerima perintah dari Gubernur Sumbar, Mahyeldi untuk bersiap menerima kiriman bantuan berupa rendang dari berbagai pihak untuk disalurkan pada korban gempa Cianjur, Jawa Barat.
Sejak enam tahun terakhir, rendang di Sumatera Barat tidak hanya dipandang sebagai kuliner khas daerah. Menu wajib dalam pesta-pesta adat dan kenduri. Rendang telah menjadi simbol empati masyarakat Sumbar terhadap korban bencana besar di berbagai daerah di Indonesia. Bencana yang merenggut banyak korban, yang menyebabkan banyak orang harus mengungsi di tenda-tenda darurat.
Sebagai daerah yang dijuluki super market bencana, Sumbar memang memiliki potensi bencana yang tinggi. Tsunami, gempa, angin puting beliung, letusan gunung api, banjir, longsor hingga karhutla berpotensi terjadi di provinsi yang pernah tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan Indonesia pada 1948-1949 itu.
Namun, dari banyak potensi bencana itu, hingga saat ini gempa menjadi bencana yang paling mematikan di Sumbar. Gempa besar pada 2009 menyebabkan 1.117 orang meninggal dunia. Ribuan orang terluka dan kehilangan tempat tinggal.
Gempa dengan magnitudo 6,1 yang melanda Pasaman dan Pasaman Barat pada 25 Februari 2022 juga mengakibatkan korban dan banyak warga mengungsi bahkan hingga saat ini.
Seringnya bencana yang melanda membuat masyarakat Sumbar sangat peka terhadap penderitaan dari saudara-saudara sebangsa yang juga terkena bencana di berbagai daerah di Indonesia, termasuk gempa di Cianjur.
Baca Juga: TNI dan Polri Kerahkan Anjing Pelacak Cari Korban Tertimbun Longsor Akibat Gempa Cianjur
Mereka paham, logistik adalah hal yang paling dibutuhkan oleh korban dan masyarakat terdampak bencana terutama di pengungsian. Jika mengungsi satu atau dua hari, nasi putih dan mie instan memang cukup untuk mengganjal perut. Namun jika pengungsian berlarut menjadi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, maka dibutuhkan bahan makanan yang bergizi dan tahan lama.
Karena itulah rendang menjadi pilihan untuk menyimbolkan empati masyarakat Sumbar. Rendang yang berbahan dasar daging dinilai mampu memberikan asupan protein yang cukup bagi korban gempa. Apalagi, ketahanan kuliner khas Minangkabau itu bisa mencapai satu bulan lebih tanpa menjadi basi, sehingga memenuhi persyaratan sebagai logistik bencana.
Gubernur Sumbar Mahyeldi menyebut kebiasaan masyarakat Sumbar mengirimkan rendang untuk membantu korban bencana sudah dimulai sejak 2016, saat membantu korban bencana di Aceh. Setelah itu, setiap kali ada bencana besar, Sumbar berupaya untuk mengirimkan bantuan rendang.
Pada bencana gempa magnitudo 5,6 di Cianjur pada 21 November, Sumbar kembali mengumpulkan rendang untuk dikirimkan ke lokasi bencana. Ditargetkan 1,5 - 2 ton rendang akan didistribusikan.
Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Sumbar menyumbangkan rendang, demikian juga BUMD dan BUMN di daerah tersebut. Organisasi kemasyarakatan juga mengumpulkan kuliner tersebut sebagai logistik bantuan.
BPBD Sumbar sebagai OPD yang ditunjuk untuk mengumpulkan donasi rendang, juga ikut menyumbang. Namun, alih-alih membeli produk yang telah jadi di pasaran, ibu-ibu anggota Dharma Wanita (DW) BPBD berinisiatif untuk memasak sendiri rendang yang akan dikirimkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
6 Fakta Proyek Jalan Tambang Bogor Barat di Tengah Evaluasi Pemprov Jabar
-
6 Fakta Pengungkapan Pembunuhan WNA Korea di Bekasi Melalui CCTV
-
Jejak Digital Tak Bisa Bohong, Pembunuh WNA Korea di Bekasi Diciduk Usai Terekam CCTV
-
Pembunuhan WNA Korea di Bekasi Terungkap, Mantan Istri Sewa Eksekutor
-
Jalan Tambang Bogor Barat Tetap Dibangun demi Ekonomi Rakyat