-
Gubernur Jawa Barat resmi melarang total penanaman kelapa sawit baru mulai 2026 guna menjaga ketersediaan air dan menyelamatkan masa depan ekologi di wilayah Tanah Pasundan.
-
Larangan ini didasari kondisi geografis Jawa Barat yang sempit sehingga lebih cocok untuk tanaman kopi, teh, dan karet yang jauh lebih ramah lingkungan serta hemat air.
-
Dedi Mulyadi menginstruksikan alih komoditas lahan sawit yang ada serta menghentikan pembukaan lahan di kawasan konservasi vital seperti lereng Gunung Ciremai demi mencegah bencana kekeringan.
SuaraJabar.id - Mengawali tahun 2026, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengambil langkah berani dan revolusioner demi menyelamatkan masa depan ekologi Tanah Pasundan.
Sosok yang akrab disapa Kang Dedi ini secara resmi menerbitkan larangan total terhadap penanaman baru kelapa sawit di seluruh wilayah provinsi.
Kebijakan ini bukan sekadar wacana, melainkan respons darurat terhadap ancaman krisis air yang mengintai Jawa Barat.
Langkah drastis ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 187/PM.05.02.01/PEREK tentang Larangan Penanaman Kelapa Sawit di Wilayah Provinsi Jawa Barat.
Aturan yang ditandatangani pada 29 Desember 2025 ini menjadi lampu merah bagi korporasi maupun individu yang berniat membuka lahan sawit, sekaligus instruksi tegas kepada seluruh bupati dan wali kota untuk mengawal pelaksanaannya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa karakteristik geografis Jawa Barat yang bergunung-gunung dan sempit sangat tidak kompatibel dengan industri sawit yang rakus air. Memaksakan sawit di tanah Jabar sama saja dengan mengundang bencana kekeringan jangka panjang.
"Jawa Barat itu kecil, wilayahnya sempit. Sawit butuh lahan luas, enggak cocok. Kita cocoknya teh, karet, kina, kopi," ujar Dedi dilansir dari Antara, Kamis 1 Januari 2026.
Tanaman seperti kopi dan teh tidak hanya ramah lingkungan dan menjaga resapan air, tetapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi yang lekat dengan budaya anak muda hari ini.
Lantas, bagaimana dengan lahan yang sudah terlanjur jadi kebun sawit? Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak tinggal diam. Instruksi penggantian tanaman atau alih komoditas secara bertahap akan diberlakukan.
Baca Juga: Gak Perlu Jauh-Jauh, 5 Spot Wisata Hits di Depok yang Cocok Buat Quality Time Bareng Keluarga
"Kalau sudah di luar peruntukan dan bukan habitatnya, ya diganti dengan tanaman lain," tegasnya.
Di balik kebijakan besar ini, terungkap fakta mengejutkan yang selama ini tersimpan rapat. Kang Dedi ternyata telah melakukan operasi senyap sekitar enam bulan lalu.
Ia mengintervensi langsung upaya pembukaan perkebunan sawit di kawasan konservasi vital, yakni lereng Gunung Ciremai.
"Enam bulan yang lalu ada yang mau menanam sawit di lereng kuning Ciremai. Cuman saya enggak cerita ke mana-mana. Saya menghentikannya melalui bupati," ungkapnya.
Intervensi ini membuktikan komitmen pemimpin daerah dalam menjaga kawasan konservasi dari jamahan industri ekstraktif yang merusak.
Dedi mengakui adanya keterlambatan penanganan karena putusnya rantai informasi dari tingkat desa. Ia menyayangkan tidak adanya laporan dini sebelum dampak lingkungan dirasakan warga.
Berita Terkait
-
Gak Perlu Jauh-Jauh, 5 Spot Wisata Hits di Depok yang Cocok Buat Quality Time Bareng Keluarga
-
4 Surga Wisata Alam di Sukabumi untuk Liburan Keluarga Akhir Tahun yang Memukau
-
Bukan Soal Keamanan, Ini Alasan Menyentuh Kapolda Jabar Larang Petasan di Malam Pergantian Tahun
-
Bandung Zoo Dipastikan Tutup Selama Libur Tahun Baru, Ini Alasannya!
-
Longsor dan Genangan Air Tutupi Jalur KA Purwakarta-Ciganea, Cek Daftar Kereta yang Tertahan
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar
-
Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu
-
Bermodus COD, Polisi Sita 1.241 Butir Obat Keras Ilegal di Bekasi
-
BMKG Rilis Imbauan Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter di Perairan Indonesia, Berlaku 14-17 September
-
Bupati Bogor Targetkan Api TPAS Galuga Padam Sebelum Groundbreaking PSEL 17 September