-
Peningkatan Kunjungan Wisata Kunjungan wisatawan ke Karawang saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru naik 12,19% dibanding tahun sebelumnya, mencapai total 17.330 orang menurut laporan Dinas Pariwisata setempat.
-
Dampak Positif Ekonomi Lokal Kenaikan wisatawan mendorong ekonomi melalui belanja kuliner dan cenderamata, serta meningkatkan hunian hotel di pusat kota Karawang hingga mencapai angka di atas 90 persen.
-
Potensi Wisata Karawang Selatan Wilayah Karawang Selatan menjadi penggerak utama pariwisata berkat destinasi alam dan glamping, yang menghidupkan usaha warga seperti homestay, jasa pemandu, transportasi lokal, hingga kuliner.
SuaraJabar.id - Siapa sangka, Kabupaten Karawang yang selama ini identik dengan Kota Lumbung Padi dan kawasan industri, kini menjelma menjadi destinasi wisata favorit baru di Jawa Barat.
Momen libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) menjadi bukti nyata pergeseran tren tersebut.
Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karawang mencatat lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan, mengalahkan capaian tahun sebelumnya.
Bagi Kawan Muda yang bosan dengan kemacetan Puncak atau Bandung, Karawang ternyata menawarkan alternatif healing yang tak kalah estetik. Data resmi menunjukkan bahwa pelancong yang menyerbu destinasi wisata di Karawang pada musim liburan kali ini mencapai angka 17.330 orang.
Kepala Disparpora Karawang, Abas Sudrajat, mengungkapkan rasa optimismenya melihat geliat pariwisata daerah. Berdasarkan hasil monitoring di lapangan, angka kunjungan tahun ini mengalami pertumbuhan positif jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.
"Jumlah wisatawan tersebut meningkat 12,19 persen dibandingkan dengan capaian kunjungan wisata pada tahun 2024 yang tercatat sebanyak 15.217 wisatawan," jelas Abas dilansir dari Antara Senin (5/1/2026).
Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator bahwa infrastruktur dan promosi wisata Karawang mulai "kena" di hati masyarakat, terutama segmen keluarga muda dan milenial yang mencari pengalaman baru.
Menariknya, tren wisata tahun ini menunjukkan perubahan pola konsumsi. Wisatawan tidak hanya datang untuk foto-foto atau menikmati alam, tetapi juga menghabiskan uang untuk sektor pendukung lainnya.
Abas menyebutkan bahwa wisatawan kini lebih royal dalam berbelanja, berburu kuliner lokal, membeli cenderamata, hingga menikmati hiburan keluarga. Ini menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat bagi warga sekitar.
Baca Juga: Jawa Barat Diguncang 1.242 Gempa Sepanjang 2025, BMKG: Tanah Pasundan Tak Pernah Tidur
Wilayah selatan Karawang menjadi bintang utama dalam lonjakan ini. Topografi perbukitan dan alam yang masih asri menjadi daya tarik yang sulit ditolak.
"Wilayah Karawang Selatan menjadi promotor pertumbuhan ekonomi pariwisata. Sebab di daerah itu tersedia berbagai destinasi wisata alam seperti Curug Cigentis, Green Canyon, dan lain-lain," ungkap Abas.
Dampak dari ramainya tempat wisata ini merembet hingga ke pusat kota. Tingkat okupansi atau hunian hotel di Karawang mengalami lonjakan tajam. Wisatawan yang lelah bereksplorasi di selatan, memilih menginap di hotel-hotel berbintang di pusat kota maupun area dekat kawasan industri untuk kenyamanan.
"Ia mengatakan tingkat hunian hotel di pusat kota dan kawasan industri Karawang tercatat di atas 90 persen," tambah laporan tersebut.
Berita Terkait
-
Jawa Barat Diguncang 1.242 Gempa Sepanjang 2025, BMKG: Tanah Pasundan Tak Pernah Tidur
-
Realisasi Pendapatan Karawang 2025 Cuma Tembus 91 Persen, Lebih Rendah dari Tahun Lalu
-
Awas Horor Macet! Puncak Arus Balik Garut Diprediksi Sabtu-Minggu Ini
-
Longsor Proyek di Jatinangor: 3 Pekerja Tewas, 3 Lainnya Masih Tertimbun Material
-
Gubernur Dedi Mulyadi Larang Total Penanaman Sawit di Jawa Barat Mulai 2026
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
RUPST BRI Putuskan Dividen Rp52,1 Triliun, Tegaskan Kinerja dan Stabilitas
-
Ada Apa di Balik Penyegelan Aset PT BBP? Konflik Tambang Emas Selatan Sukabumi Memuncak
-
Ekspansi Luar Negeri Dimulai, Pegadaian Buka Kantor Cabang Pertama di Timor Leste
-
Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Tak Perlu KTP Pemilik Pertama, Melanggar? Jabatan Taruhannya
-
Sengkarut MBG di Ciamis: Menyingkap Teka-teki Pungli Rp 250 Ribu yang Menyeret Anggota DPRD