- Proyek pembangunan perumahan elite oleh PT Gunung Karang Megah di Bukit Gunung Karang Kota Sukabumi terhenti sementara karena belum memiliki izin resmi.
- Aktivitas pengerukan tanah sejak akhir 2025 ini telah menyebabkan penurunan daya serap air dan penyumbatan saluran irigasi persawahan warga.
- Warga menuntut pengembang menyediakan fasilitas umum berupa lahan pemakaman sebagai syarat kompromi atas pengubahan bentang alam tersebut.
SuaraJabar.id - Jika Anda pernah berdiri di puncak Bukit Gunung Karang, Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, Anda pasti paham mengapa tempat ini begitu istimewa.
Dari ketinggiannya, panorama 360 derajat membentang magis—memperlihatkan keindahan utara, selatan, timur, dan barat Kota Sukabumi tanpa sekat.
Namun, pesona alam yang sempat digagas oleh Karang Taruna setempat sebagai destinasi wisata unggulan itu kini terancam tinggal kenangan.
Rimbunnya pepohonan hijau telah digantikan oleh raungan mesin pengeruk. Bentang alam perbukitan itu secara tragis sedang "dibotaki" dan dikoyak oleh proyek raksasa perumahan elite yang dikelola oleh PT Gunung Karang Megah.
Ironisnya, aktivitas masif yang mengubah kontur tanah secara permanen itu ternyata belum mengantongi restu (izin resmi) dari pemerintah daerah.
Buntutnya, proyek ambisius tersebut kini terpaksa menekan tombol pause (dihentikan sementara).
Lurah Limusnunggal, Deddy Supriyadi, mengamini karut-marut perizinan ini. Ia membeberkan bahwa pihak perusahaan memang pernah mengetuk pintu kelurahan, meminta difasilitasi untuk "merayu" warga sekitar agar mau menandatangani surat pernyataan tidak keberatan atas aktivitas pembukaan lahan (cut and fill).
“Waktu itu, perusahaan datang meminta fasilitas kelurahan untuk bertemu warga. Katanya, lahan itu mau dijadikan perumahan elite. Kami fasilitasi,” ungkap Deddy dikutip dari sukabumiupdate.com, Senin (16/3/2026).
Aktivitas pengerukan yang amat rakus itu nyatanya sudah mengunyah tanah Gunung Karang sejak akhir tahun 2025. Namun, Deddy menegaskan bahwa hingga detik ini, legalitas proyek tersebut masih ibarat benang kusut.
Baca Juga: Menepis Hoaks "Sopir Kabur": Kakek Sopir Angkot Lindas Pasutri di Gandasoli Kini Diperiksa Polisi
“Seiring berjalannya waktu, kami beberapa kali mengonfirmasi soal perizinannya ke DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kota Sukabumi. Jawabannya selalu sama, masih dalam proses pembahasan teknis. Yang jelas, karena perizinannya belum ada, sekarang proyeknya harus dihentikan dulu,” tegas sang Lurah.
Alat Berat Menganggur, Sawah Warga Mampet
Pantauan langsung di lokasi pada Senin (16/3/2026) memperlihatkan pemandangan yang mengiris hati para pencinta lingkungan.
Hamparan tanah cokelat nan gersang mendominasi pandangan. Jalur-jalur luka bekas roda rantai alat berat tampak membelah perbukitan dengan bengis.
Namun hari itu, bukit yang biasanya bising mendadak sepi seperti kuburan. Di lokasi pengerjaan, terlihat sedikitnya lima unit alat berat (ekskavator) dan tiga truk pengangkut material terparkir membisu. Tak ada satu pun aktivitas pekerja yang terlihat.
Kekhawatiran yang selama ini dipendam warga di tiga wilayah, yakni RW 3, RW 9, dan RW 11, akhirnya meledak. Aktivitas cut and fill ini mulai menunjukkan dampak ekologisnya yang merusak.
Berita Terkait
-
Menepis Hoaks "Sopir Kabur": Kakek Sopir Angkot Lindas Pasutri di Gandasoli Kini Diperiksa Polisi
-
Membangun Ekosistem Kopi di Lereng Salak, Tempat Petani Jadi Jantung Rantai Nilai
-
Terhempas dari Atap Angkot: Kisah Pilu Pria di Sukabumi yang Terjatuh Saat Jaga Karangan Bunga
-
Adu Strategi di Jalur Bocimi: Menakar Jurus Polisi Sukabumi Jinakkan Kemacetan di Seksi 3
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Amerika Serikat Akhirnya Akui 200 Tentara Jadi Korban Rudal Kiamat Iran
-
6 Fakta Kecelakaan Bus Haryanto Tabrak 5 Mobil Pemudik di Tol Batang
-
Puncak Mudik Bakauheni Diprediksi 18-19 Maret 2026, ASDP Ingatkan Pemudik Segera Beli Tiket
-
Belajar dari Pengalaman, Jukir di Jogja Deklarasi Anti Nuthuk saat Libur Lebaran
-
Kisah Fendi, Bocah Gunungkidul yang Rela Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu
Terkini
-
Bukit Hijau Gunung Karang Dibotaki Demi Perumahan Elite, Kini Mangkrak Gara-Gara Izin Belum Jelas
-
Niat Pamer Kesiapan Mudik, Medsos Wali Kota Tasik Malah Digeruduk PNS: "THR Mana, Pak?"
-
Malam Horor di Paseh Sumedang: Tubuh Kakak Beradik Penjaga Warung Madura Terbakar 95 Persen
-
Petaka Petasan Bocah: Dalam Sekejap, Pabrik Ban Rumahan di Garut Ludes Dilalap Si Jago Merah
-
Menepis Hoaks "Sopir Kabur": Kakek Sopir Angkot Lindas Pasutri di Gandasoli Kini Diperiksa Polisi