- Jalur wisata Cikidang-Palabuhanratu Sukabumi lumpuh total akibat kemacetan parah pada H+3 Lebaran 2026.
- Ribuan wisatawan terperangkap macet semalaman dari Senin malam hingga Selasa pagi, memicu kepanikan dan kelelahan.
- Kemacetan ekstrem ini diduga kombinasi lonjakan arus balik, penyempitan jalan, dan kendaraan mogok di tanjakan curam.
SuaraJabar.id - Memasuki H+3 Lebaran 1447 Hijriah (2026 Masehi), harapan ribuan wisatawan untuk menikmati sisa liburan di pantai selatan Sukabumi justru berubah menjadi "mimpi buruk" yang menguras fisik dan mental.
Jalur wisata sekaligus urat nadi alternatif Cikidang-Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mendadak lumpuh total.
Sejak Senin malam (23/3/2026) hingga matahari terbit pada Selasa pagi (24/3/2026), antrean kendaraan dilaporkan terkunci mati (stuck) di kedua arah. Ribuan roda empat dan roda dua terperangkap berjam-jam tanpa ampun di tengah gelap dan dinginnya malam.
Jagat media sosial seketika dibanjiri oleh rekaman video amatir yang memperlihatkan visualisasi horor tersebut. Lautan lampu sorot merah dan putih dari deretan kendaraan memanjang tak berujung, memenuhi seluruh inci badan jalan yang sempit.
Dalam keputusasaan, para pengendara motor terpaksa bermanuver berbahaya membelah celah sempit, sementara para pengemudi mobil hanya bisa pasrah mematikan mesin, nyaris tidak bergerak satu sentimeter pun.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cikidang melaporkan bahwa "simpul mati" kemacetan terparah berpusat di pertigaan Buniwangi, tepat di area minimarket Indomaret. Situasi psikologis di dalam lautan kemacetan itu dilaporkan mulai tak terkendali dan sangat emosional.
"Kondisinya benar-benar stuck, mati kutu. Di lapangan, banyak anak-anak balita di dalam kendaraan yang mulai menangis histeris kelelahan. Bahkan, ada beberapa penumpang lansia yang mengeluh sakit perut dan sesak napas karena terlalu lama terjebak di jalan raya tanpa akses toilet dan sirkulasi udara yang baik," ujar salah seorang petugas dalam rekaman voice note darurat WhatsApp yang beredar.
Tak hanya meruntuhkan mental manusia, kejamnya kontur Cikidang juga mulai "menyiksa" mesin kendaraan. Di titik-titik tanjakan ekstrem nan curam, seperti Pasir Bilik, teror baru muncul: bau menyengat kampas kopling yang gosong terbakar.
Aroma hangus itu menguar tajam ke udara dari deretan mobil manual yang tertahan di tengah tanjakan. Para pengemudi dipaksa bermain setengah kopling dan menarik tuas rem tangan berkali-kali dalam durasi yang sangat lama, menahan beban mobil agar tidak merosot mundur ke jurang di tengah antrean yang tak kunjung terurai.
Baca Juga: Nekat Bawa 18 Nyawa! Tragedi Gagal Nyalip Bus di Pangandaran Renggut Nyawa Nadila
"Sembilan Jam, Serasa Pindah Pulau"
Ahmad (34), seorang wisatawan asal Bogor, membagikan kisah pilu perjuangannya menembus kemacetan horor ini. Rencana healing (liburan) ke Palabuhanratu berubah menjadi siksaan jalanan.
Ia memutar kunci kontak dari kawasan Ciawi pada Senin pukul 22.00 WIB malam. Namun, hingga pukul 07.30 WIB pagi hari berikutnya, mobilnya masih berstatus "sandera" di area perbatasan Kecamatan Cikidang dan Palabuhanratu. Perjalanan yang normalnya hanya hitungan jam, kini membengkak menjadi hampir 10 jam.
"Dari semalam buta sudah macet parah, dan sampai pagi ini matahari terbit pun roda belum lancar berputar. Bahkan tadi subuh, sempat hampir dua jam full posisi mobil saya sama sekali tidak bergerak maju. Serasa pindah pulau saking lamanya!" keluh Ahmad dengan wajah kuyu dan mata memerah kepada awak media di lokasi, Selasa (24/3/2026).
Hingga berita ini diturunkan, jajaran kepolisian dari Satlantas Polres Sukabumi maupun Dinas Perhubungan belum merilis keterangan resmi (press release) terkait pemicu utama kelumpuhan massal di "jalur neraka" ini.
Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, tragedi ini diduga kuat lahir dari kombinasi mematikan: lonjakan volume arus balik wisatawan yang meluap bersamaan, penyempitan badan jalan (bottleneck), serta diperparah oleh banyaknya kendaraan roda empat yang mengalami gangguan mesin (mogok) tepat di tengah tanjakan curam.
Berita Terkait
-
Nekat Bawa 18 Nyawa! Tragedi Gagal Nyalip Bus di Pangandaran Renggut Nyawa Nadila
-
Tragedi Ujunggenteng 3 Nyawa Melayang, Penyelamat Ayah dan Anak Ditemukan Nelayan Pagi Ini
-
Rekor 29 Kali One Way di Jalur Bandung-Garut! Strategi Polisi Urai Macet Mudik 2026
-
Update Arus Lebaran 2026: Kemacetan Mengular dari Cikaledong hingga Cagak Nagreg Malam Ini
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
Pilihan
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
Terkini
-
Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara
-
Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap
-
BRI Private Hadirkan Premium Medical Check Up, Dukung Nasabah Jaga Kesehatan
-
Ombudsman Temukan Bangunan Khusus di Lapas Cibinong, Fasilitas Disebut Bak Apartemen
-
Lewat BRI inFrame 2026, Kisah Ekonomi Kerakyatan Indonesia Diabadikan dalam Bingkai Fotografi