- Saparudin dan 11 anggota keluarganya tinggal di rumah bambu tidak layak huni yang berlokasi di Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung.
- Sejak tahun 2013, pihak berwenang sering mendata serta mendokumentasikan rumah tersebut, namun hingga kini tidak ada realisasi perbaikan nyata.
- Keluarga Saparudin hidup dalam kondisi memprihatinkan dengan struktur bangunan yang nyaris roboh serta atap bocor saat hujan turun.
SuaraJabar.id - Di sebuah sudut sunyi Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung, sebuah bangunan berbahan bilik bambu berdiri miring, seolah sedang beradu nasib dengan waktu.
Bagi siapa pun yang melintas, rumah itu mungkin tampak seperti gudang tua yang terlupakan. Namun bagi Saparudin (56), bangunan lapuk itulah satu-satunya "istana" tempat ia menjaga napas 11 anggota keluarganya.
Total ada 12 jiwa yang berdesakan di dalam rumah yang jauh dari kata layak tersebut. Di sini, privasi adalah kemewahan, dan rasa aman adalah mimpi yang mahal.
Saat angin kencang bertiup, dinding bilik itu bergoyang hebat, mengirimkan sinyal bahaya bahwa maut bisa datang kapan saja jika struktur kayu yang sudah dimakan usia itu menyerah.
Bagi keluarga Saparudin, hujan bukan lagi berkah, melainkan horor yang nyata. Atap yang sudah bolong di sana-sini tak lagi mampu membendung air.
Setiap kali langit menggelap, mereka harus bersiap dengan baskom dan ember. Lantai tanah yang becek dan perabot yang lembap menjadi saksi bisu betapa perihnya bertahan hidup di tengah kemiskinan yang mencekik.
“Saya bekerja serabutan. Apa saja saya kerjakan, meski hasilnya tidak menentu setiap hari,” ujar Saparudin pelan saat ditemui di rumahnya, Rabu (1/4/2026). Gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya, mewakili beban berat sebagai tulang punggung keluarga besar.
Yang paling menyakitkan bagi Saparudin bukanlah kemiskinannya, melainkan harapan palsu yang terus-menerus disuapkan kepadanya.
Sejak tahun 2013, tepat 13 tahun yang lalu, petugas dari tingkat desa hingga kecamatan silih berganti datang. Modusnya selalu sama, mendata, meminta identitas, dan mengambil foto kondisi rumah dari berbagai sudut.
Baca Juga: Malam Mencekam di Ciloa: Tembok Tebing Ambrol, Dua Motor Terkubur di Ruang Tamu Usai Longsor
“Dulu pernah beberapa kali ke sini, difoto, data juga sudah banyak diambil, tapi belum ada realisasi sampai sekarang,” ungkapnya dengan nada getir.
Bahkan, geliat politik pada Februari lalu sempat membawa rombongan partai ke depan pintu rumahnya. Mereka datang, melihat, memotret, lalu pergi tanpa kabar. Saparudin kini merasa rumahnya hanya sekadar menjadi objek dokumentasi kemiskinan tanpa pernah ada solusi nyata.
Sejak menempati rumah tersebut pada tahun 2000, tak sekalipun renovasi menyentuh dinding bilik atau atapnya. Meski ia masih menerima bantuan langsung tunai (BLT) sesekali, namun bagi Saparudin, yang ia butuhkan lebih dari sekadar uang makan.
Ia mendambakan dinding yang kokoh dan atap yang tak bocor agar anak-cucunya bisa tidur tanpa harus merasa was-was rumah itu akan ambruk menimpa mereka.
Kini, di usianya yang senja, Saparudin hanya bisa berharap pada keajaiban. Jika pintu birokrasi terus tertutup rapat oleh tumpukan berkas foto yang tak kunjung diproses, ia berharap ada tangan dermawan yang terketuk hatinya.
Artikel ini telah ditayangkan di website harapanrakyat.com media jaringan Suara.com dengan judul "Rumah Nyaris Roboh Dihuni 12 Jiwa di Bandung, Saparudin Menanti Janji Bantuan"
Berita Terkait
-
Malam Mencekam di Ciloa: Tembok Tebing Ambrol, Dua Motor Terkubur di Ruang Tamu Usai Longsor
-
Sedot Air Tanah Tapi 'Emoh' Urus Izin: Ratusan Pengusaha di Banjar Kini Berada di Ujung Tanduk
-
ASN Ciamis Siap-Siap WFH atau Genjot Sepeda di Hari Jumat demi Hemat BBM
-
Pantauan Terkini: Rumah Ono Surono Sepi Usai Digeledah KPK, Hanya Ada Toyota Hardtop
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Pulang Belanja Sayur Subuh Hari, Nenek 62 Tahun di Bogor Meninggal Dunia Tertimpa Tembok Pembatas
-
Eiger Nature Megamendung: Pelopor Ekowisata Masa Depan dengan Vibe Swiss di Jantung Bogor
-
Tolic Wanti-wanti Rival: Ketika Semua Menyatu, Persib Bakal Jadi Tim Luar Biasa
-
Gunakan Uang APBDes Rp574 Juta untuk Renovasi Rumah dan Bayar Utang, Kaur Keuangan Desa di Sukabumi
-
BPK Apresiasi Transformasi Kementerian Hukum, Tata Kelola Terus Didorong Menguat