- Gubernur Dedi Mulyadi mengembalikan Mahkota Binokasih ke Keraton Sumedang Larang pada Senin, 18 Mei 2026 setelah rangkaian kirab.
- Kirab budaya di sembilan wilayah Jawa Barat bertujuan mempererat silaturahmi serta mengedukasi generasi muda terkait sejarah luhur Sunda.
- Pemerintah daerah diharapkan memprioritaskan penataan lingkungan dan kebersihan kota sebelum berfokus mengembangkan sektor pariwisata di wilayah setempat.
SuaraJabar.id - Setelah menuntaskan perjalanan panjang melintasi sembilan kota dan kabupaten di Jawa Barat, mahkota legendaris Binokasih Sanghyang Pake akhirnya kembali ke rumahnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), secara resmi menyerahkan kembali mahkota tersebut kepada pihak Keraton Sumedang Larang, Senin (18/5/2026).
Prosesi pengembalian pusaka peninggalan Kerajaan Sunda abad ke-14 ini dilakukan melalui upacara adat yang khidmat di Gedung Negara Sumedang, sebelum akhirnya disimpan kembali di tempat asalnya, Museum Prabu Geusan Ulun.
Mahkota Binokasih sebelumnya menjadi pusat perhatian dalam rangkaian kegiatan Kirab Milangkala Tatar Sunda.
Kegiatan ini bertujuan untuk merajut kembali tali silaturahmi antar-wilayah di Jawa Barat sekaligus mengedukasi generasi muda mengenai akar budaya dan sejarah luhur mereka.
Sebagai benda cagar budaya yang bernilai tinggi, mobilitas Mahkota Binokasih selama kirab dilakukan dengan pengawalan ketat dan protokol pelestarian yang terjaga guna menjamin keamanan fisik benda bersejarah tersebut.
Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa penyelenggaraan kirab budaya ini bukan sekadar seremoni tradisi, melainkan memiliki multiplier effect (dampak berganda) bagi masyarakat luas, terutama di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.
"Coba lihat hotel-hotel penuh, orang yang berkunjung ke Jawa Barat makin meningkat, dan beberapa daerah mulai nampak bersih," ujar KDM.
KDM berharap, setelah Kirab Milangkala Tatar Sunda seluruh daerah di Jabar harus jauh lebih baik, mulai dari sisi kebersihan hingga penataan lingkungan.
Baca Juga: Isu Nama Jawa Barat Diganti Jadi 'Tatar Sunda' Viral, Pemprov Beri Penjelasan
Pihaknya mencontohkan penataan lingkungan keraton-keraton di Cirebon. Keraton-keraton yang ada saat ini menurutnya kurang mendapat ruang terbuka.
Hal itu dikarenakan keraton dikepung oleh bangunan-bangunan baru. Selain itu, bangunan baru di sekitar tidak selaras dengan keraton.
"Kedepan, seluruh bangunan yang ada di sekitar keraton itu harus selaras, baru akan melahirkan gelombang publik untuk datang berkunjung," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak terburu-buru meningkatkan kunjungan wisatawan.
Menurutnya masyarakat dan pemerintah daerah harus mengedepankan penataan kawasan kearah yang lebih baik.
"Yang paling utama kita jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir orang berkunjung. Satu saja, kita urus lembur kita, kota ditata. Sudah saja itu dulu, nanti setelah itu nanti ada hikmah," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Isu Nama Jawa Barat Diganti Jadi 'Tatar Sunda' Viral, Pemprov Beri Penjelasan
-
Gubernur Jabar Hati-hati Garap Proyek Jalur Khusus Tambang di Kabupaten Bogor
-
Sebelum Bangun Jalan Khusus, Dedi Mulyadi Evaluasi Total Nasib Tambang di Bogor
-
Dedi Mulyadi Targetkan Jalur Puncak II Bisa Digunakan Masyarakat Tahun 2027
-
6 Fakta Wacana Pajak Kendaraan Dihapus di Jabar: Ganti Sistem Jalan Berbayar ala Dedi Mulyadi
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Mengenal 'Predator', Sapi Simental 1,1 Ton Milik Presiden Prabowo untuk Warga Sukabumi
-
Sering Dikeluhkan Warga di Medsos, Dinkes Bogor Ancam Beri Sanksi Puskesmas Cisarua
-
Sentil Penataan Keraton, KDM: Jangan Buru-Buru Pikir Wisata, Urus Lembur dan Kota Dulu
-
Bupati Sukabumi Bantah Masjid Al Afghani Mangkrak, Asep Japar: Terkendala Keterbatasan Anggaran
-
Misteri Masjid Al Afghani Sukabumi: Habiskan Rp3,6 Miliar APBD, Kini Mangkrak dan Dipenuhi Ilalang