Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:48 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. [Dok Suara]
Baca 10 detik
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meluncurkan sayembara berhadiah uang pribadi sepuluh juta rupiah pada Sabtu, 25 Juli 2026.
  • Hadiah diberikan kepada warga yang berhasil menangkap pelaku begal dan menyerahkannya kepada polisi dalam kondisi hidup.
  • Kebijakan ini bertujuan mencegah aksi pengeroyokan massa sekaligus mengaktifkan kembali kegiatan ronda malam di lingkungan masyarakat.

SuaraJabar.id - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meluncurkan langkah tak biasa untuk menekan maraknya aksi begal dan kejahatan jalanan. Ia mengumumkan sayembara berhadiah Rp10 juta bagi warga yang berhasil menangkap pelaku dan menyerahkannya kepada polisi dalam keadaan hidup dan tidak babak belur.

Dedi menegaskan hadiah tersebut bukan berasal dari APBD, melainkan murni menggunakan uang pribadinya. Menurutnya, skema ini dirancang bukan sekadar memberi penghargaan kepada masyarakat, tetapi juga mengubah pola penanganan pelaku kejahatan agar tidak lagi berujung aksi main hakim sendiri.

"Enggak, dari saya dulu saja (uangnya)," ujar Dedi Mulyadi dikutip dari ANTARA pada Sabtu (25/7/2026).

Menurut Dedi, masyarakat Indonesia memiliki budaya yang akrab dengan sistem penghargaan. Karena itu, ia meyakini insentif finansial dapat mendorong partisipasi warga menjaga keamanan lingkungan sekaligus menghidupkan kembali pos ronda.

Namun, ia memberikan syarat tegas. Hadiah Rp10 juta tidak akan diberikan apabila pelaku begal atau pencuri diserahkan dalam kondisi babak belur akibat dikeroyok massa.

"Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," tegasnya.

Dedi menjelaskan, pendekatan tersebut memiliki tujuan psikologis agar masyarakat memilih menyerahkan pelaku kepada aparat penegak hukum daripada melampiaskan emosi dengan kekerasan.

"Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan Rp10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi," katanya.

Selain menekan praktik main hakim sendiri, Dedi berharap sayembara ini mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan lingkungan dan memperkuat budaya ronda sebagai benteng pertama mencegah kejahatan jalanan.

Baca Juga: Luka Parah hingga ke Kaki, Pemulihan Korban Penyekapan Taufik Hidayat Butuh Waktu Setahun

Load More