Andi Ahmad S
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:46 WIB
Asap membubung dari lokasi kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). [ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/kye]
Baca 10 detik
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan kebakaran seluas 30 hektare di Gunung Ciremai padam total dalam dua hari.
  • Pemerintah mengerahkan helikopter untuk water bombing dan 500 personel darat untuk membersihkan kanal alami demi mencegah penyebaran api.
  • Dedi menduga kebakaran dipicu pembakaran ilalang oleh warga dan menjanjikan hadiah uang bagi pelapor pencurian kayu sonokeling.

SuaraJabar.id - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai targetnya bakal padam total hanya dalam waktu dua hari. Target ambisius ini ditegaskan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).

Untuk menembus sulitnya medan di puncak gunung serta keterbatasan air, operasi water bombing digencarkan lewat dukungan armada helikopter dari Kemhan, Mabes TNI, TNI AU, dan BNPB. Di darat, sebanyak 500 personel turut diterjunkan untuk membersihkan kanal-kanal alami.

Dedi juga menyebut luas area terdampak kebakaran di Gunung Ciremai yang tercatat seluas 30 hektare, bukan seperti informasi sebelumnya yang menyebutkan angka mencapai 60 hektare, dan kini tinggal 20 persen.

"Luas lahan yang terbakar mencapai 30 hektare, bukan 60 hektare. Setelah pemadaman sehari sebelumnya, titik api yang tersisa diperkirakan tinggal 20 persen, itu pun pada titik-titik api yang tidak terlalu rawan," ujar Dedi Mulyadi.

Mantan Bupati Purwakarta tersebut menerangkan bahwa intervensi water bombing dari udara merupakan pilihan tunggal mengingat aksesibilitas fisik personel darat menuju puncak Ciremai sangat berisiko.

"Kalau manual, naik ke gunungnya bagaimana? Kemudian di puncaknya memadamkan api pakai apa? Sumber airnya kan tidak ada. Andai kata pun punya alat, berapa orang yang punya kemampuan naik ke puncak gunung?," kata Dedi.

Secara paralel, Pemprov Jabar juga menerjunkan 500 personel gabungan untuk memikul tugas membebaskan sirkulasi kanal alami di lereng gunung dari tumpukan sampah, batangan bambu, dan kayu kering.

Langkah ini dirancang agar sewaktu curah hujan turun, aliran air kanal otomatis berfungsi sebagai sekat bakar alamiah (firebreak) guna membendung perambatan api ke zona vegetasi lainnya.

"Sampah-sampahnya diangkat sehingga nanti kalau ada air turun, kanal itu bisa berfungsi dan membantu mencegah api menyeberang," ucapnya.

Baca Juga: Kebakaran Landa Ruang Keuangan RSUD Kota Banjar, Begini Kronologinya

Terkait pemicu awal timbulnya kobaran api, Dedi menduga adanya aktivitas pembakaran ilalang secara tidak bertanggung jawab oleh oknum warga untuk pembukaan lahan pertanian jelang datangnya musim tanam.

"Mungkin ada yang bakar ilalang karena mau menjelang November. Petani biasanya suka mulai menanam," tutur Dedi.

Dedi menegaskan penanganan karhutla ini telah dilaporkan dan berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara serta Sekretaris Kabinet.

"Saya minta arahan karena ada kebakaran di Ciremai. Pak Mensesneg meminta agar Ciremai ditangani. Saya juga lapor ke Pak Seskab," ujarnya.

Di samping fokus memadamkan api, Dedi secara mendadak membongkar praktik kejahatan lingkungan lainnya berupa dugaan pencurian kayu sonokeling di kawasan konservasi TNGC, serta menyiapkan imbalan uang tunai Rp10 juta bagi warga yang berani membeberkan identitas para pelaku.

"Siapa yang bisa nanti menyampaikan informasi para pencuri sonokeling, saya kasih hadiah 10 juta," tutur Dedi. [Antara].

Load More