Kisah Wawan Game: Idap Gangguan Jiwa karena Doyan Main PlayStation

Agung Sandy Lesmana | Stephanus Aranditio
Kisah Wawan Game: Idap Gangguan Jiwa karena Doyan Main PlayStation
Iwan Setiawan (mengenakan masker) dititipkan di Yayasan Jamrud Biru. (Suara.com/Tio).

Kepalanya gundulnya selalu menunduk dan sorot matanya pun fokus tertuju ke kedua jempolnya meski tak ada gawai di tangannya.

Suara.com - Sekilas tidak ada yang berbeda dengan Iwan Setiawan (32), seorang dengan gangguan jiwa yang dirawat di Yayasan Jamrud Biru, Mustika Jaya, Bekasi, Jawa Barat saat ditemui Suara.com pada Jumat (19/7/2019).

Namun jika diamati lebih jauh, dua jempol pria yang akrab disapa Wawan ini tak henti bergerak layaknya orang yang sedang memainkan gawai di depan dadanya.

Kepalanya gundulnya selalu menunduk dan sorot matanya pun fokus tertuju ke kedua jempolnya meski tak ada gawai di tangannya.

Pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu sudah tiga bulan dirawat di Yayasan Jamrud Biru, Bekasi Timur itu rupanya mengidap skizofrenia, gangguan mental ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Kakak Ipar Wawan, Encu saat dihubungi Suara.com bercerita, adiknya lahir dalam kondisi yatim piatu, sejak kecil tidak ada keanehan dalam diri Wawan.

Cerita bermula sejak Wawan duduk di bangku SMP dan mengenal console game (PlayStation) hingga kecanduan. Saat itu dia sering bermain di rental PS dekat rumah.

"Dulu dia emang suka main PS, itu yang pakai stick itu, dulu mah belum ada HP seperti HP kayak zaman sekarang, bukan karena HP, karena dulu kan iwan memang suka main PS, itu juga kalau punya uang, kalau enggak punya uang mah enggak, itu kan dulu bayar," kata Encu saat dihubungi, Jumat (19/7/2019).

Setelah lulus dari SMP, Wawan tidak melanjutkan ke SMA, dia bersama kakaknya dibawa ke Bandung untuk mengikuti kursus menjahit. Beberap tahun di Bandung, Iwan kembali lagi ke Tasikmalaya, saat itulah keluarga menyadari Wawan mengalami gangguan kejiwaan.

Melihat keadaan Wawan, Encu bersama keluarganya sepakat membawa Wawan ke "orang pintar", namun hal itu sia-sia, mereka menempuh jalur medis dengan membawa Wawan ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Lembang, Bandung, Jawa Barat.

"Saya juga kaget diomongin sama mertua itu wah katanya si Iwan stres, terus saya cari orang pintar, dibawa ke orang pintar gitulah, dimandiin, dikasih air minum gitulah, sama aja malah abis uang, makanya dulu pernah dibawa ke Lembang Bandung di rumah sakit jiwa berapa bulan bayar juga," imbuhnya.

Jalur medis juga tak kunjung membuat Wawan sembuh, keluarga memutuskan untuk menerima keadaan. Keluarga membantah jika memperlakukan Wawan dengan cara dipasung.

"Kalau dipasung diiket mah enggak, cuman dipisahin kamarnya saja, enggak diikat," tegas Encu.

Wawan kemudian bertemu dengan Sri Pudjiawati, orang dari LSM Gerak Cepat Bersama. Bersama Sri, Wawan disarankan untuk menjalani rehabilitasi di Yayasan Jamrud Biru, Bekasi yang didirikan Suhartono.

Suhartono menerima Wawan sekitar bulan Maret dengan kondisi kurang sehat, berat badannya waktu itu hanya 24 kilogram, saat ini setelah dibina di Yayasan Jamrud Biru berat badan Wawan naik hingga 43 kilogram.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS