SuaraJabar.id - Indeks penyebaran (RO) Virus Corona di Jawa Barat dalam beberapa waktu belakangan dikabarkan meningkat menjadi 1.1. Penambahan tersebut disinyalir karena kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) yang mengeluarkan peraturan penghentian pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Epidemiolog Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FKM Unpad) Bony Wiem Lestari mengungkapkan, ada kenaikan angka reproduksi Covid-19 sejak diberhentikannya PSBB Jabar yang perlu diwaspadai.
“Angka reproduksi Covid di Jabar terhitung sejak 1 Juli 2020 itu ada di angka 1.1 tapi kalau dilihat tren dari tanggal 19 juni sampai 1 Juli 2020 untuk periode dua minggu masih ada di angka 0.84 hal ini menunjukkan bahwa angka reproduksi efektif yang di angka 1.1 menandakan bahwa kita semua harus waspada,” ungkap Bony dalam konferensi pers daring, Jumat (3/7/2020).
Bony mengungkapkan, penambahan kasus positif Corona di Jawa Barat masih akan terus meningkat hingga sebulan mendatang. Lantaran itu, dia menilai perlunya sinkronisasi dan kerja sama yang baik antara pimpinan daerah kota dan kabupaten untuk menekan penyebaran Covid.
Baca Juga:Positif! Kadis Kelautan dan Perikanan Jabar Meninggal karena Virus Corona
“Dan dari pemodelan yang kami kerjakan masih akan terjadi peningkatan kasus positif dalam satu bulan ke depan. Tapi secara umum bisa dikatakan dari sisi epidemiologi kasus Covid di Jabar ini masih terkendali,” kata Bony.
Pihaknya berharap dengan meningkatnya angka reproduki Covid di Jawa Barat bisa terus diwaspadai. Peningkatan kasus positif ini juga didasarkan pada euforia masyarakat setelah PSBB Jabar diberhentikan.
“Jadi harapannya dengan meningkatnya angkat reproduksi efektif ini menjadi kewaspadaan kita bersama karena peningkatan kasus positif ini terjadi terutama setelah PSBB Jabar itu diangkat oleh pak Gubernur pada tanggal 26 juni kemarin, sehingga barangkali ada pengaruh juga, euforia masyarakat, mobilitas penduduk yang meningkat, sehingga ini berpengaruh juga,” ungkap Bony.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, pihaknya telah memprediksi adanya peningkatan kasus di Jawa Barat. Sehingga, pihaknya masih akan memberlakukan pembatasan sosial beskala mikro (PSBM) di daerah yang memiliki zona merah atau masih hitam.
“Peningkatan ini memang kita sudah prediksi sehingga tadi dengan koordinasi yang baik dengan kota Kab, mengingatkan agar kebijakan pengetatan itu terus dilakukan di level mikro atau PSBM jadi dilakukan tindakan pembatasan sosial berskala mikro, di wilayah yang sudah kita deteksi zona merah atau hitam, jadi tidak ada pengenduran,” ungkap Emil.
Baca Juga:Kabar Baik! Kota Sukabumi Resmi Menjadi Wilayah Pertama Zona Hijau di Jabar
Emil mengungkapkan pengetatan tetap dilakukan, hanya tidak berbasis skala besar lagi, karena tidak fair memperlakukannya di seluruh wilayah, sementara ada yang betul-betul sudah aman terkendali, contohnya itu Sukabumi sudah hijau, teknisnya seperti Depok yang mungkin paling berat diberlakukan proporsional.