Dibalik Gurihnya Wajit Cililin, Ada Larangan Kolonial Belanda

Pada rentan waktu itu wajit Cililin dijual secara sembunyi-sumbunyi.

Suhardiman
Jum'at, 09 April 2021 | 15:57 WIB
Dibalik Gurihnya Wajit Cililin, Ada Larangan Kolonial Belanda
Wajit Cililin Asli Cap Hj Siti Romlah di Kabupaten Bandung Barat yang Melegenda. [Ist]

Pada rentan waktu itu wajit Cililin dijual secara sembunyi-sumbunyi. Namun dengan keyakinan bahwa rakyat berhak memakan apa yang meraka tanam, Irah pun memberanikan diri menjual wajit secara terang-terangan

Tahun 1936-an, Irah yang merupakan keturunan kedua atau anak dari Juwita mulai berani menjualnya secara terang-terangan.

"Ia tahu bahwa bahan dasar wajit itu hasil dari sawah rakyat. Jadi tak salah jika dimakan semua kalangan," ujar Samsul.

Berkat aksi berani itu, Irah beberapa mendapat intimidasi dari pemerintah kolonial Belanda. Namun, Irah tak bergeming.

Baca Juga:TOK! RS Lapangan Kota Bogor Akan Berhenti Beroperasi, Ini Alasannya

Ia terus menjual makanan tersebut bahkah hingga ke Kota Bandung. Tak pelak kudapan wajit Cililin makin terkenal dan tak terbendung lagi untuk diprivatisasi oleh satu kalangan.

"Tahun 1950 hasil penjualan wajit bisa menunaikan haji ibu Irah, dulu masih menggunakan kapal laut, perjalanan ke Mekah membutuhkan waktu lama, dalam perjalanan ke Mekah bisa tiga bulan lamanya," bebernya.

Setelah pulang dari tanah suci, Irah berganti nama menjadi Hj. Siti Romlah. Sempat diteruskan oleh keturunan ketiga, yakni H. Ramli, kini wajit legenda yang diberinama 'Wajit Asli Cap Potret Hj. Siti Romlah' yang kini dilanjutkan Samsul yang merupakan keturunan keempat.

"Produksi gak banyak, kita gak ngejar kualitas. Jadi alhamdulillah relatif stabil," tukas Samsul.

Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki

Baca Juga:Sempat DPO, Satu Terduga Teroris Serahkan Diri ke Polsek Setiabudi

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak