"Disediakan formulir dan pakta integritas untuk pertanggungjawaban setiap anggota yang resmi ingin bergabung dengan GBR," kata Noval. "Jejaring GBR juga luas karena mungkin sudah ada di seluruh Jawa Barat atau bahkan Indonesia," tambah dia.
Noval menyebut GBR memiliki AD/ART yang melarang setiap anggotanya membawa senjata tajam, narkotika, atau barang terlarang lainnya. Namun ia menilai wajar jika masyarakat memiliki anggapan kurang baik terhadap kelompoknya yang dicap sebagai geng motor. "Tapi kita sudah berusaha menjalankan hal yang positif dan mengikuti aturan pemerintah. Kita harap support dari pemerintah dalam artian bisa menyediakan arena seperti untuk balap road race yang resmi agar terkontrol," kata dia.
Joko Kristiyanto selaku konsultan psikologi dari Sukabumi ikut mengomentari fenomena yang saat ini terjadi. Ia mengatakan aktivitas Geng Motor marak di berbagai tempat yang keanggotaannya didominasi usia muda. "Sesuai proses tumbuh kembang anak, memang di usia itu banyak mencari eksistensi," kata Joko.
Joko berujar anggota Geng Motor rata-rata merupakan anak yang tidak diterima secara nyaman di lingkungan keluarganya. Alhasil, mereka mencari kelompok yang menurutnya bisa menerima kehadiran mereka. Kondisi persamaan itulah yang akhirnya menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.
Baca Juga:Pulang Ronda Malam, Darta Tangkap Maling di Rumahnya Sendiri
"Jadi penanganannya harus komprehensif dan holistik. Mereka juga mudah sekali diprovokasi oleh keadaan yang menurut pandangan mereka tidak adil," kata pria yang juga pernah menempuh pendidikan psikologi di Universitas Indonesia, Universitas Erasmus Rotterdam Belanda, dan Universitas Auckland Selandia Baru.
Setelah bergabung di salah satu geng motor, kata Joko, acap kali muncul anggapan bahwa kelompoknya lebih hebat dari yang lain. Situasi itu sebenarnya membuat Geng Motor ini bentrok dengan kelompok yang kondisinya sama seperti mereka. "Tapi kan kemudian melebar ke masyarakat," ujar dia.
Joko menyebut remaja-remaja yang masuk ke dalam Geng Motor juga bisa disebabkan karena mereka haus kasih sayang untuk diperlakukan spesial. Pasalnya, hal itu tidak mereka dapatkan dengan cara yang nyaman sewaktu masih kecil. "Kadang mereka mendapat perlakukan kasar, baik verbal maupun sosial," kata Joko.