"Motor juga semakin semarak mengingat sekolah polisi juga menggunakannya sebagai salah satu kendaraan polisi yang dilatih dan mempunyai bengkel di Politie School Soekaboemi," kata dia.
Sebagian motor ini masih ada pasca-merdeka dan digunakan di sekolah polisi. Meski begitu, sambung Irman, ada juga ekses negatif berupa arogansi para anggota klub motor saat itu yang menyebabkan mereka tidak terlalu disukai seperti yang terjadi pada Vrossink, pemilik motor di Cibadak.
Motor juga menjadi salah satu ajang olahraga di Pekan Olahraga Nasional atau PON tahun 1951 yang menggunakan kelas-kelas, misalnya kelas A dengan kapasitas silinder mesin 350 hingga 500 cc, kelas B 500 sampai 760 cc, dan kelas C 750 cc. "Dalam kegiatan itu motor-motor sempat melakukan rally melewati Sukabumi," ujar Irman.
Kegiatan klub motor mulai beragam setelah munculnya motor-motor baru. Saat itu terjadi perubahan di mana klub motor elite masih eksis, namun muncul pula klub motor yang fokus dalam olahraga seperti balap motor resmi maupun motorcross.
Baca Juga:Pulang Ronda Malam, Darta Tangkap Maling di Rumahnya Sendiri
Irman mengatakan klub motor baru yang agak berbeda dan kerap melakukan balapan jalanan muncul pada 1980-an. Nama-nama seperti Erri Kribo dan Bunong muncul sebagai pembalap jalanan. Bahkan inisiasi klub motor jenis Vespa juga muncul di Sukabumi yang dipelopori Bob DC dari anak Vespa Sukabumi. "Namun mereka masih dalam koridor positif, bahkan tak jarang melakukan kegiatan amal serta sosial dan tidak melakukan kegiatan kriminal," katanya.
"Namun disayangkan memang muncul varian yang mengarah pada kejahatan, meski mungkin secara resminya mereka tidak melakukan itu, namun pada praktiknya sebagian tidak mempunyai kontrol terhadap anggotanya sehingga melakukan kegiatan yang meresahkan warga," pungkas Irman mengakhiri.
![Ketua Brigez Sukabumi serahkan atribut kepada Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sumarni, Kamis (27/5/2021). [Sukabumiupdate.com/Riza]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/05/27/60469-geng-motor-sukabumi.jpg)
Rangkaian insiden kekerasan di Sukabumi yang dilakukan anggota Geng Motor mau tidak mau menarik perhatian publik terhadap empat kelompok yang bermulai di Bandung: Brigez, XTC, GBR, dan Moonraker. Telah cukup lama mereka bertransformasi menjadi organisasi kemasyarakatan dan berupaya membangun kegiatan-kegiatan positif bagi para anggotanya. Kelompok ini pun memiliki struktur kepengurusan di berbagai daerah, termasuk Sukabumi.
Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan Dewan Pimpinan Cabang XTC Kota Sukabumi Furqon Akbar mengatakan berdirinya XTC di Kota Sukabumi berawal dari sekumpulan pecinta sepeda BMX (feeble) yang sering berkumpul di kawasan Kaum Kidul - Sukabumi. Salah satu anggota komunitas sepeda BMX tersebut kemudian bersekolah dan melanjutkan kerja di Bandung.
"Ketika pulang ke Sukabumi membawa motor dengan sedikit atribut bendera yang menempel di motor, yag membawa nama XTC," kata Furqon. Anggota komunitas BMX itu pun menceritakan XTC di Bandung: klub motor anak muda yang tingkat solidaritasnya tinggi.
Baca Juga:Empat Geng Motor Serahkan Atribut, Polisi: Kita Ajak Hijrah
"Nah di situ awal mula di Sukabumi dengan segelintir anak-anak BMX di mana motornya memakai atribut XTC pada 2003 sudah mulai ada. Lalu mengajak teman-teman yang lain dan kita menjadi simpatisan. Seiring berjalannya waktu simpatisan semakin bertambah," ucapnya.
Pada 2007, sambung Furqon, XTC Sukabumi diresmikan Ketua Umum XTC dan berkembang pesat hingga saat ini. Memasuki 2012, XTC Indonesia bertansformasi menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda atau OKP. "Lalu pada 2015 menjadi organisasi kemasyarakatan atau ormas," kata Furqon.
Furqon juga tidak keberatan menjelaskan pola perekrutan keanggotaan XTC. Ia menyebut pada awalnya -- saat masih berstatus Geng Motor -- belum ada ketentuan baku bagaimana sistem perekrutan. Bagi yang ingin bergabung, cukup ikut berkumpul secara rutin sambil menunggu masa orientasi.
"Ketika bertransformasi dari Geng Motor menjadi OKP dan akhirnya menjadi ormas resmi yang diakui negara, perekrutan anggota mulai menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Sedikit demi sedikit belajar berorganisasi dan melakukan pendataan ulang di mana setiap anggota mengisi formulir serta syarat-syarat lainnya," jelas Furqon.
Kendati begitu, Furqon tidak memungkiri kenyataan di lapangan yang dinilai belum efektif menggunakan pola perekrutan seperti itu. Ia berujar masih banyak anggota XTC yang terlanjur kental dengan pola pikir XTC sebagai geng motor. "Tetapi sampai hari ini pun kami tetap berikhtiar untuk memperbaiki," kata dia.
Saat ini XTC Indonesia telah menjadi ormas dengan struktur organisasi yang hampir sama dengan ormas-ormas lainnya. Dimulai di tingkat nasional disebut Dewan Pimpinan Pusat, tingkat provinsi disebut Dewan Pimpinan Daerah, tingkat kabupaten/kota Dewan Pimpinan Cabang, dan tingkat kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang. "Sehingga untuk koordinasi dan komunikasi kita berjalan dengan baik apabila ada suatu permasalahan maupun lainnya akan saling memberikan support," kata Furqon.