Sudah Ada sejak Zaman Belanda, Ini Jejak Geng Motor di Sukabumi

Geng motor yang berkembang ke arah kejahatan seperti sekarang memang cenderung baru.

Ari Syahril Ramadhan
Minggu, 30 Mei 2021 | 14:44 WIB
Sudah Ada sejak Zaman Belanda, Ini Jejak Geng Motor di Sukabumi
Foto klub atau geng motor di Sukabumi zaman Belanda. [KITLV via Soekaboemi Heritages]

Irman yang kini aktif sebagai Kepala Riset dan Kesejarahan Soekaboemi Heritages berujar rute Sukabumi juga menjadi ajang uji coba seperti yang dilakukan Preanger Motorclub pada Oktober 1922. Kegiatan tersebut disusul klub motor lain dua tahun kemudian yang juga menggunakan rute Sukabumi.

Bincang-bincang bareng klub motor Iron Buffalo asal Solo. (Mobimoto.com/Cesar Uji Tawakal)
ILUSTRASI motor antik (Mobimoto.com/Cesar Uji Tawakal)

Kegiatan motor semakin berkembang mulai 1930-an, mengingat rute Sukabumi banyak digunakan, seperti ajang pemecahan rekor yang dilakukan Gerrit de Raadt, di mana mengendarai motor Batavia - Surabaya melalui Sukabumi dalam waktu 30 jam 45 menit dengan motor Reading Standard.

Selanjutnya, pada Agustus 1936 Koninklijk Nederlands-Indische Motorclub atau KNIMC alias klub motor Hindia Belanda, melakukan rally melewati Tjibadak, Tjikembang, Waroengkoendang, melewati jembatan sungai Tjimandiri, Pasawahan, Bodjonglopang, Njalindoeng, Baros, dan Soekaboemi dalam rute Buitenzorg-Garoet.

"Pada masa itu memang belum dikenal Geng Motor yang melakukan balapan liar. Kegiatannya rata-rata masih positif misalnya, melakukan uji coba bagi motor-motor baru terutama mengenai ketepatan waktu dan jumlah pengeluaran bahan bakar," ujar Irman. Kegiatan lainnya seperti Indische Motorclub, yang bahkan berkolaborasi dengan komunitas pariwisata Sukabumi, yaitu Soekaboemi Bloei dalam mengangkat pariwisata melalui rute Bojong Lopang, Palabuhanratu, dan Ubrug.

Baca Juga:Pulang Ronda Malam, Darta Tangkap Maling di Rumahnya Sendiri

Irman menyebut sejumlah klub motor baru juga biasanya melakukan uji coba ke Sukabumi, sehingga tidak heran beberapa Geng Motor seperti Bataviasch Motorclub dan Bandoengsche Motorclub membuat peta wisata termasuk mengindikasikan tempat wisata dan sejarah di wilayah Sukabumi. Mereka pun secara profesional membawa fotografer untuk beragam tujuan.

"Motor juga semakin semarak mengingat sekolah polisi juga menggunakannya sebagai salah satu kendaraan polisi yang dilatih dan mempunyai bengkel di Politie School Soekaboemi," kata dia.

Sebagian motor ini masih ada pasca-merdeka dan digunakan di sekolah polisi. Meski begitu, sambung Irman, ada juga ekses negatif berupa arogansi para anggota klub motor saat itu yang menyebabkan mereka tidak terlalu disukai seperti yang terjadi pada Vrossink, pemilik motor di Cibadak.

Motor juga menjadi salah satu ajang olahraga di Pekan Olahraga Nasional atau PON tahun 1951 yang menggunakan kelas-kelas, misalnya kelas A dengan kapasitas silinder mesin 350 hingga 500 cc, kelas B 500 sampai 760 cc, dan kelas C 750 cc. "Dalam kegiatan itu motor-motor sempat melakukan rally melewati Sukabumi," ujar Irman.

Kegiatan klub motor mulai beragam setelah munculnya motor-motor baru. Saat itu terjadi perubahan di mana klub motor elite masih eksis, namun muncul pula klub motor yang fokus dalam olahraga seperti balap motor resmi maupun motorcross.

Baca Juga:Empat Geng Motor Serahkan Atribut, Polisi: Kita Ajak Hijrah

Irman mengatakan klub motor baru yang agak berbeda dan kerap melakukan balapan jalanan muncul pada 1980-an. Nama-nama seperti Erri Kribo dan Bunong muncul sebagai pembalap jalanan. Bahkan inisiasi klub motor jenis Vespa juga muncul di Sukabumi yang dipelopori Bob DC dari anak Vespa Sukabumi. "Namun mereka masih dalam koridor positif, bahkan tak jarang melakukan kegiatan amal serta sosial dan tidak melakukan kegiatan kriminal," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak