Ia pun menghubungi koleganya dari mulai Rumah Sakit Rotinsulu, Rumah Sakit Al Ihsan, Rumah Sakit Al Islam, Rumah Sakit Emanuel, hingga Rumah Sakit Santosa.
Ternyata kondisinya sama. Di satu sisi, ia makin cemas sebab kondisi kakak iparnya sangat butuh pertolongan.
Samsul kemudian membawa kakak iparnya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Tiba sekitar pukul 00.00 WIB, lagi-lagi pemandangan yang sama terlihat. Ada sekitar 90 pasien yang antre hingga ambulan hilir mudik.
Namun, pasien akhirnya diterima di RSHS Bandung dengan tidak ada jaminan pertolongan maksimal sebab semua ruangan sudah penuh.
Baca Juga:Daftar Lengkap 742 Lab Tes PCR untuk Syarat Penerbangan, Berlaku Mulai Hari Ini
Keluarga diskusi dan menyerahkan perawatan kepada RSHS. Pasien diterima di selasar IGD, karena IGD sudah penuh.
"Kami pasrah. Setidaknya berada dalam pemantauan ahlinya. Mereka sigap, meskipun nampak lelah sangat," ucap Samsul.
Kemudian pada 1 Juli 2021 pagi, kakak iparnya menjalani swab test PCR meksipun saat itu dokter meyakini bahwa pasien terinfeksi virus Corona. Dokter selalu memberikan informasi perkembangan harian.
![Tukang gali kubur tengah menggali lubang di Pemakaman Khusus COVID-19 di TPU Lebaksaat, Cipageran, Cimahi Utara, Kota Cimahi. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/06/16/56323-tukang-gali-kubur-covid-19-di-kota-cimahi.jpg)
Memasuki hari ke-7, kakak ipar Samsul masuk ruang perawatan Kemuning RSHS Bandung. Hingga kemudian pada 10 Juli 2021 sekitar pukul 09.00 WIB, pihak keluarga diberi kabar bahwa pasien kondisinya kritis.
"Dengan saturasi 50-an. Ventilator sudah kepakai semua. Kami diinfokan untuk menerima kabar terburuk sekalipun," terang Samsul.
Baca Juga:Indonesia Dapat Bantuan 1000 Tabung Oksigen dari Perusahaan Singapura
Kabar terburuk itu pun disampaikan dokter. Kakak iparnya dinyatakan meninggal sekitar pukul 12.00 WIB. Semuanya berduka, namun mencoba ikhlas sebab takdir sudah ditetapkan Tuhan.