Kini, mereka hidup berdampingan. Tanpa sekat, mereka selalu mengedepankan sikap saling menghormati meski berbeda keyakinan. Bahakn di setiap acara kepercayaan dan agama, mereka saling berbaur dan membantu.
"Kita saling menjaga, tidak pernah membedakan. Kalau ada acara adat, atau acara keagamaan Islam, pasti saling dilibatkan," ujar Abah Widi.
Tetap Menjaga Tradisi
Berada di wilayah Kota Cimahi, Kampung Adat Cireundeu memang bukan tipe perkampungan yang menampakan suasana tradisional.
Baca Juga:Ahli Sebaran Penyakit UI Sarankan PPKM Kembali Diperpanjang, Apa Alasannya?
Ruas jalan di perkampungan ini sudah disemen, bahkan nyaris semua bangunan yang ada adalah bangunan permanen.
Warga di sana tak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Teknologi di kalangan masyarakatnya seperti berbagai peralatan elektronik mereka pakai tak bedanya dengan masyarakat perkotaan.
Meski begitu, mereka tetap mempertahankan kearifan lokal. Warga Kampung Cireundeu sangat patuh untuk menjaga hutan sakral dalam kehidupan sehari-hari.
Sampai sekarang masyarakat adat Cireundeu tidak pernah mengganggu dan merusak kelestarian hutan larangan sekitar 30 hektare.
Sehingga kelestarian dan keutuhan hutan yang disakralkan itu tetap terpelihara dengan baik. Selain itu, singkong sebagai salah satu makanan pokok tetap mereka pertahankan hingga kini.
Baca Juga:Perjuangan untuk Merdeka dari Pandemi COVID-19
"Kita berharap masyarakat adat ini tetap lestari sampai kapanpun," ucap Abah Widi.