alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dari Cafe ke Jahe, Pelaku Usaha Korban Pandemi Ini Bangkit dari Bangkrut dan Raih Sukses

Lebrina Uneputty Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:04 WIB

Dari Cafe ke Jahe, Pelaku Usaha Korban Pandemi Ini Bangkit dari Bangkrut dan Raih Sukses
Ivan Septiono (30, kiri) Pengusaha Minuman Herbal Jahe Asal Bandung Barat .(Ferry Bangkit)

"Setelah tertarik, dia membelinya, lalu menyebar dari mulut ke mulut, karena saya memang menyasar komunitas herbal terlebih dahulu," sebut Ivan.

"Lalu diberikan ke tetangga dan teman-teman, ternyata disukai. Dari situ, akhirnya saya jualan jahe merah pada 2020," ujar Ivan.

Dia mengaku minuman jahe merah yang diproduksi merupakan hasil racikan sendiri. Ivan belajar mengolah jahe merah jadi bubuk minuman dari menonton YouTube, dengan melewati berkali-kali percobaan hingga menghasilkan racikan yang dianggap pas.

Ivan sadar pengusaha minuman herbal banyak. Namun dengan kualitas yang dimilikinya, ia meyakini bisnis jahe racikannya bisa bersaing dengan pengusaha lainnya.

"Minuman jahe merah ini saya racik sendiri, sampai menemukan komposisi yang pas baru saya berani jual ke pasaran," kata Ivan, bapak dari tiga anak itu.

Sebelum menjualnya di Bandung, dia mengaku justru lebih dulu menggempur pasar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Selain menjual kepada teman dan relasinya, minuman jahe merah juga dijual sendiri olehnya secara door to door kepada masyarakat umum.

"Setelah tertarik, dia membelinya, lalu menyebar dari mulut ke mulut, karena saya memang menyasar komunitas herbal terlebih dahulu," sebut Ivan.

Melihat respons pasar yang positif, Ivan pun menyeriusi bisnis minuman jahe merah tersebut. Dia mengurus berbagai izin produksi dan edarnya, membangun pabrik dan kantor, sampai menyiapkan strategi pasar untuk berjualan secara daring maupun menitipkan ke toko atau apotek.

"Akhirnya, ya sudah saya bikin pabrik. Izin siap, saya lalu bom pasar, sekarang pembelinya sudah sampai ke Bali. Saya sudah menawari ke distributor di Singapura, tapi masih belum direspons," katanya.

Kerja keras Ivan berbuah hasil. Dengan perjuangan dan bantuan dari 30 pegawainya, ia mengaku saat ini bisa menghasilkan omzet Rp100-200 juta dalam sebulan, dengan produksi mencapai 1 kuintal jahe per hari.

Omzet tersebut, aku dia, sangat jauh dibandingkan dengan ketika melakoni bisnis kafe. Padahal, varian dari jahe merah yang dijual hanya satu jenis dan cuma untuk kemasan botol. Oleh karena itu, dia berencana untuk mengembangkannya jadi beberapa varian minuman jahe, dan membuat kemasan sachet.

"Saya juga enggak cuma jual jahe, ada juga produk herbal yang lain seperti madu, tapi saya cuma sebagai distributor. Di masa pandemi COVID-19 ini, yang penting kita jangan kalah dengan keadaan. Minimal bisa mengimbangi, syukur-syukur bisa melebihi," pungkasnya.

Komentar

Berita Terkait