![Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]](https://media.suara.com/pictures/original/2021/01/29/94141-curug-malela.jpg)
Jika kamu ingin melihat indahnya air terjun, di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, ada air terjun terberas. Namanya Curug Malela.
Mengutip kanal youtube Muhaemin Nuryati, untuk sampai di Curug Malela, kamu harus lebih dulu berjalan selama 30 menit dari tempat parkir. Tiket masuknya dibanderol seharga Rp12.000.
Tapi kalau kalian malas jalan kaki menuju Curug Malela, di pintu masuk juga ada ojek yang siap mengantar kalian sampai tujuan. Cukup bayar Rp30.000, kaki kalian tidak akan terasa capek.
Selama perjalan, hawa sejuk akan selalu menemani kalian. Jika kalian merasa lelah, di dekat curug juga ada warung-warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman. Kalau untuk istirahat sejenak sambil menikmati panasnya kopi juga boleh lah.
Baca Juga:Memanfaatkan Aliran Sungai untuk Wisata Kuliner
Oh iya, kalau berniat kesana kalian harus memilih waktu yang tepat. Jangan di saat musim hujan. Karena saat musim hujan, tentunya air akan berubah coklat karena tercampur lumpur. Jika kondisinya seperti itu, dipastikan kalian tidak bisa menikmati segarnya ari Curug Malela.
Air terjun ini bahkan mendapatkan julukan sebagai Niagara-nya Bandung Barat karena ukurannya yang luar biasa, meski tidak sebesar Niagara yang asli tentunya.
Wisata Populer di Bandung Selatan
1. Kawah Putih Ciwidey

Kawah Putih Ciwidey merupakan sebuah danau yang berasal dari letusan Gunung Patuha.
Menurut kanal youtube Kang Karta Official, keunikan Kawah Putih Ciwidey, tanah yang bercampur belerang putih membuat airnya berwarna putih kehijauan dan selalu berubah sesuai dengan kadar belerang dalam danau tersebut.
Baca Juga:Objek Wisata Mulai Buka, Dispar Sleman Harap Dongkrak PAD 2021 hingga Rp1,5 Miliar
Kawah yang berada di ketinggian 2430 MDPL tersebut, tetap menyimpan hawa sejuk. Menjelang sore, biasanya kabut mulai turun menutupi area kawah hingga menghalangi pandangan kita