alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah Kota Depok, Dulu Hutan Belantara dan Mantan Kecamatan di Bogor

Pebriansyah Ariefana Rabu, 24 November 2021 | 16:52 WIB

Sejarah Kota Depok, Dulu Hutan Belantara dan Mantan Kecamatan di Bogor
Lambang Kota Depok

Pada tahun 1976, Perum Perumnas mulai membangun perumahan bersama dibangunnya Universitas Indonesia.

SuaraJabar.id - Sejarah Kota Depok yang dulunya merupakan dusun di hutan belantara yang dibeli tanahnya oleh VOC yang juga membeli daerah Jakarta Selatan, Ratujaya, dan Bojonggede. Kemudian Depok menjari kecamatan di lingkungan Kewedanaan wilayah Parung Kabupaten Bogor.

Kemudian, pada tahun 1976, Perum Perumnas mulai membangun perumahan bersama dibangunnya Universitas Indonesia. Oleh karena itu mulai meningkatlah perdagangan dan jasa hingga memerlukan pelayanan yang cepat juga.

Pemerintah kemudian membentuk Kota Depok sebagai kota administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1981 yang diresmikan kemudian tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri Amir Machmud sebagai Menteri Dalam Negeri. Menteri tersebut meresmikan Kota Depok menjadi 3 kecamatan dan 17 desa.

Kecamatan-kecamatan tersebut yakni Kecamatan Pancoran Mas. Di dalam kecamatan tersebut terdapat 6 desa yakni Desa Depok Jaya, Desa Depok, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Pancoran Mas, Desa Rangkapan Jaya Baru.

Baca Juga: Jalankan Fungsi Pengawasan, Komisi III Sidak Tiga Lokasi Pembangunan Strategis

Kemudian ada Kecamatan Sukmajaya yang terdiri atas 6 desa yakni Desa Mekarjaya, Desa Sukamaju, Desa Sukma Jaya, Desa Kalibaru, Desa Cisalak, Desa Kalimulya. Selanjutnya ada Kecamatan Beji yang terdiri dari 5 Desa yakni Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.

Semakin berkembangnya jaman, Kota Depok juga semakin berkembang di bidang Pembangunan, Pemerintahan, dan Kemasyarakatan. Pada bidang Pemerintahan, seluruh desa berganti menjadi Kelurahan sehingga akhirnya Depok terdiri atas 23 Kelurahan dan 3 Kecamatan.

Kecamatan Pancoran Mas yang terdiri atas 6 kelurahan yakni Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru. Kecamatan Beji yang juga terdiri atas 6 Kelurahan, yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurah Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka, Kelurahan Kukusan, Kelurahan Tanah Baru. Kemudian ada Kecamatan Sukmajaya yang terdiri atas 6 kelurahan yakni Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Suka Maju,. Kelurahan Mekarjaya, Kelurahan Abadi Jaya, Kelurahan Baktijaya, Kelurahan Cisalak, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Kalimulya, Kelurahan Kali Jaya, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Jatimulya, Kelurahan Tirta Jaya.

Kota Depok semakin berkembang dan aspirasi masyarakat pun semakin mendesak. Masyarakat mendesak agar Depok menjadi Kotamadya agar pelayanannya semakin baik. Kemudian, Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat memerhatikan dan mengusulkan saran tersebut ke Pemerintah Pusat serta Dewan Perwakilan Rakyat.

Undang-Undang Nomor 15 tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok ditetapkan pada tanggal 20 April 1999 yang kemudian diresmikan pada 27 April 1999. Peresmian tersebut berbarengan dengan Pelantikan Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok yang dipercayakan kepada Drs. H. Badrul Kama yang saat itu menjabat sebagai Walikota Kota Depok. Peresmian tersebut pun dijadikan hari jadi Kota Depok.

Baca Juga: Susuri Perkampungan, Atang Trisnanto Ajak Warga Jaga Kebersihan dan Lingkungan

Berdasarkan peraturan di atas, Kota Depok terdiri atas 3 kecamatan ditambah dengan sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor yakni Kecamatan Cimanggis yang didalamnya terdapat Desa Cimpaeun, Kelurahan Cilangkap, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa Harjamukti, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Sukatani, Desa Cijajar, Desa Sukamaju Baru,Desa Leuwinanggung. Selain itu terdapat Kecamatan Sawangan yang terdapat 14 desa yaitu Desa Serua, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Pondok Petir, Desa Kedaung, Desa Curug, Desa Sawangan, Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Mekar, Desa Duren Seribu, Desa Pengasinan Desa Bedahan, Desa Pasir Putih. Kemudian ada Kecamatan Limo dengan 8 desa yakni Kecamatan Limo yang terdiri dari 8 (delapan) Desa Krukut, Desa Limo, Desa Cinere, Desa Meruyung, Desa Pangkalan Jati, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Grogol. Selanjutnya juga ada 5 desa lagi dari Kecamatan Bojong Gede Desa Ratu Jaya, Desa Cipayung Jaya, Desa Cipayung, Desa Pondok Terong, Desa Pondok Jaya. Kota Depok saat ini menjadi penyangga Ibu Kota Negara yang menjadi kota pendidikan, pusat perdagangan dan jasa, pariwisata, kota pemukiman dan resapan air.

Daftar Wali Kota Kota Depok

Kota Depok mulai dipimpin oleh Mochammad Rukasah Suradimadja pada tahun 1982 hingga 1984, Mochammad Ibid Tamdjid pada tahun 20 Maret 1984 - 20 Maret 1988, Abdul Wachyan pada tahun 22 Maret 1988 hingga 22 Maret 1991, Mohammad Masduki pada tahun 1991 hingga 1992, Sofyan Safari Hamim pada tahun 1992 hingga 1996, Badrul Kamal pada tahun 1997 hingga 1999, Badrul Kamal menjabat lagi pada tahun 2000 hingga 2005, Nur Mahmudi Ismail pada tahun 2006 hingga 2011 dan menjabat lagi pada tahun 2011 hingga 2016, kemudian yang saat ini adalah Muhammad Idris yang memimpin pada tahun 2016 hingga 2021 dan 2021 hingga saat ini.

Tempat Wisata, Tipologi, dan Senjata Tradisional

Green Lake View Waterpark, Taman Wisata Pasir Putih, Fantasi Waterpark, Taman Bunga Wiladatika, D’Kandang Amazing Farm, Situ Pengasinan Depok, Cagar Alam Kota Depok, Masjid Kubah Emas, Godong Ijo. Depok juga memiliki senjata tradisional yakno Golok Bongsor. Golok ini digunakan untuk membersihkan semak dan rumput. Dipercaya bahwa dulu pembuatannya dengan unsur mistik. Depok merupakan wilayah dengan iklim tropis dan curah hujan cukup kecil. Kota Depok berpotensi sebagai daerah pertanian dan kemiringannya sangat cocok untuk sistem drainase.

Demikian informasi singkat terkait dengan sejarah Kota Depok beserta tempat wisata, tipologi, dan senjata tradisional. Kota Depok merupakan daerah yang potensial untuk berkebun karena kesuburannya dan berperan penting dalam urusan administrasi Ibu Kota Negara.

Kontributor : Annisa Fianni Sisma

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait