facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pedagang Pasar Tradisional di Bandung Nilai Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Hanya Untungkan Perusahaan Besar

Ari Syahril Ramadhan Selasa, 25 Januari 2022 | 16:48 WIB

Pedagang Pasar Tradisional di Bandung Nilai Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Hanya Untungkan Perusahaan Besar
Penjual minyak goreng di Pasar Atas Baru Kota Cimahi. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

"Ini sama saja mematikan pedagang kecil, karena kami beli dari distributor tetap dengan harga Rp 19.500 per liter," kata salah satu pedang minyak goreng di Pasar Curug Agung.

SuaraJabar.id - Kebijakan satu harga minyak goreng Rp 14 ribu per liter yang dikeluarkan Pemerintah disebut mendatangkan mudarat bagi pedagang kecil.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jawa Barat Nandang Sudrajat. Menurutnya, banyak pedagang di pasar tradisional yang merugi akibat operasi pasar minyak goreng melalui minimarket.

Pasalnya kata dia, operasi pasar tersebut dinilai hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat semata secepatnya.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengusaha besar untuk berpromosi dengan harga minyak goreng murah melalui operasi pasar.

Baca Juga: Masih Langka, Pemprov DKI Minta Pedagang Batasi Penjualan Minyak Goreng: 2 Liter per Orang

"Nasib pedagang kecil akan terus terpuruk karena harus menjual minyak goreng stok lama dengan pembelian mahal antara Rp 17 - 18 ribu, dan dipaksa harus habis dalam satu Minggu ke depan. Ini sesuatu yang mustahil, karena orang sudah memiliki cadangan minyak goreng hasil dari operasi pasar," kata Nandang, Selasa (25/1/2022).

Tak hanya itu, Nandang menganggap, kebijakan satu harga minyak goreng Rp 14 ribu juga terkesan terburu-buru.

Penyeragaman harga tersebut, menurut Nandang, secara tidak langsung memukul industri kemasan minyak goreng yang telah berdarah-darah dalam memperjuangkan merek masing-masing selama bertahun-tahun dengan kualitas yang beragam.

"Kondisi saat ini di industri kemasan sudah banyak yang mulai menghentikan produksi selama dua hari, karena kebanjiran barang returan dari distributor dan agen-agen. Ini artinya, industri kemasan mengalami kerugian tidak kecil," ungkapnya.

"Kebijakan penyeragaman minyak goreng telah digoreng-goreng, sehingga menyebabkan pedagang pasar, warung dan industri kemasan merugi," sambungnya.

Baca Juga: Kasihan Lihat Pedagang Kecil di Madiun dan Ponorogo, Rima Darma Bagi-bagikan Minyak Goreng

Senada dengan Nandang, Sejumlah pedagang kecil minyak goreng eceran di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kota Cimahi mengaku rugi dengan adanya kebijakan satu harga minyak goreng kemasan Rp 14 ribu per liter.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait