SuaraJabar.id - Penambangan batu kapur yang sudah kelewat batas semakin merusak Karst Citatah yang membentang dari Padalarang hingga Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Selain merusak lingkungan, juga menghancurkan jejak prasejarah di kawasan tersebut.
Ada banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan, namun masifnya aktivitas penambahan setidaknya mencoreng keindahan Kars Citatah.
Meski kini sebagian bukit bopeng oleh aktivitas tambang, beberapa di antaranya berhasil diselamatkan sehingga pesonanya dapat dinikmati hingga sekarang.
Baca Juga:Komisi X Kunker ke Bandung Barat Bahas PTM dan Pembiayaan Guru PPPK
Salah satunya, Karang Panganten atau dikenal Tebing Citatah 90, di Kampung Cinangsi, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, KBB.
Pilar-pilar batu karst atau batu kapur menjulang tinggi di Karang Panganten, sekilas terlihat seperti gedung berbentuk kubus. Jika dilihat dari sisi lain, batu-batu ini seperti ditanam, ia tumbuh tinggi menerobos tanah bak pepohonan.
Keindahan Karang Panganten bukan saja dari kejauhan. Saat mendekat, batuan raksasa ini memiliki bentuk macam-macam. Aneka retakan dan lubang pada karang seperti membentuk lukisan abstrak tiga dimensi. Sangat cocok jadi latar swafoto.
"Banyak tempat swafoto alami berlatar batuan karst. Kalau mau lihat pemandangan indah dari ketinggian bisa naik ke puncak," ujar pengelola wisata Karang Panganten, Muhammad Anang Hadiat (39) pada Rabu (2/1/2022).
Karang Panganten kini menjadi tempat wisata edukasi. Meneliti sejarah bumi Bandung dan mengamati struktur batuan kapur, banyak dilakukan di sini. Namun hal itu kerap dilakukan oleh kalangan mahasiswa dan akademisi lainnya.
Baca Juga:Hengky Kurniawan Cari Penyebab Naiknya Kasus COVID-19 di Bandung Barat
Bagi masyarakat umum, mayoritas datang justru belajar cara panjat tebing. Struktur Karang Panganten yang cukup beragam, jadi lokasi cocok belajar panjat untuk anak-anak hingga dewasa.
Bagi pengunjung yang ingin belajar panjat tebing, pengelolaan telah menyiapkan seluruh alat-alat guna menjamin keamanan. Selain itu, terdapat dua orang instruktur yang bakal membimbing cara memanjat.
Selain belajar memanjat tebing, Karang Panganten juga jadi rumah aneka satwa liar. Paling ikonik yakni monyet ekor panjang dan elang. Jangan aneh, jika anda melihat rombongan monyet kejar-kejaran dan meloncat di antara bebatuan serta burung elang yang terbang berputar di atas karang.
"Ada 100 ekor lebih monyet ekor panjang hidup di sini. Sarang burung elang juga ada. Monyet di sini populasinya bertambah karena ada sebagian eksodus dari Gunung Bancana yang sudah dieksploitasi tambang," terang Anang.
Menurut Anang, kerusakan beberapa gunung Karst Citatah jadi latar belakang dirinya dengan beberapa elemen masyarakat mengembangkan Karang Panganten jadi destinasi wisata. Ia ingin tempat ini menjadi lokasi edukasi, konservasi, dan rekreasi berbasis pemberdayaan masyarakat.
"Kita ingin membangun wisata tapi wisata yang berkelanjutan dan ikut memberdayakan masyarakat. Sehingga jadi alternatif ekonomi tanpa merusak karst," jelasnya.