Mahasiswa dan Dosen Gelar Aksi Bongkar, Ada Apa dengan Kampus ISBI Bandung?

"ISBI sedang mundur, idealisme hancur. Sekolah kesenian ditarik ke kajian saja, padahal sekolah kesenian itu diharapkan melahirkan karya," ujar Rachman Sabur.

Ari Syahril Ramadhan
Rabu, 23 Maret 2022 | 07:00 WIB
Mahasiswa dan Dosen Gelar Aksi Bongkar, Ada Apa dengan Kampus ISBI Bandung?
Pertunjukan reak jadi bagian aksi protes mahasiswa ISBI Bandung mengenai gedung mangkrak di kampus ISBI Bandung Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Jumat (4/2/2022).[Suara.com/M Dikdik RA]
Sejumlah mahasiswa beserta dosen menggelar aksi Bongkar ketiga di kampus ISBI, Jumat (18/3/2022). [Suara.com/M Dikdik RA]
Sejumlah mahasiswa beserta dosen menggelar aksi Bongkar ketiga di kampus ISBI, Jumat (18/3/2022). [Suara.com/M Dikdik RA]

"ISBI sedang mundur, idealisme hancur. Sekolah kesenian ditarik ke kajian saja, padahal sekolah kesenian itu diharapkan melahirkan karya, penciptaan-penciptaan, bukan hanya kajian. Penciptaan jadi dianggap tidak penting, ini ngaco. Sekolah seni sepatutnya melahirkan seniman-seniman, seperti zaman ASTI dulu (Akademi Seni Tari Indonesia), karena dosennya juga banyak seniman," ujarnya.

Lebih dari 20 dosen, termasuk sejumlah ketua prodi, katanya, sudah menghendaki pejabat pascasarjana itu diberhentikan demi perbaikan. Rachman menegaskan, ini bukan masalah pribadi, tapi menyangkut kepentingan lembaga secara umum. Namun, rektor dianggap tidak bersikap tegas.

"Ada apa sebetulnya? Aneh, rektor selalu menilai kinerja direktur itu begini," kata Rachman sambil mengacungkan jempol.

Rachman pun menegaskan bahwa aksi Bongkar ketiga itu pun mendesak rektor agar berani memberhentikan pejabat-pejabat kampus yang kinerjanya tidak baik.

Baca Juga:Dikira Boneka Panda, Asep Syok Temukan Ini saat Mencari Ikan di Sungai Citarum

"Ayo ambil kebijakan dengan akal sehat," tegas Rachman.

Mahasiswa Terlibat

Sementara itu, Ketua Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) ISBI, Syahrul mengatakan, mahasiswa memilih untuk bergabung dengan gerakan forum dosen karena menganggap kampus juga seperti rumah. Mahasiswa juga berhak tahu dan terlibat dalam permasalahan di dalamnya guna memastikan hak pendidikan yang ideal.

"Mahasiswa ikut bersolidaritas. Kampus semacam rumah kita, kalau ada kotoran atau retak di dinding harus dibenahi, kalau tidak mungkin memang benar harus dibongkar," katanya.

"Kami merasa persoalan ini tidak hanya menjangkiti Pascasarjana tapi juga akan merambah pada persolan mahasiswa," katanya.

Baca Juga:Cemburu Pacar Dibonceng, Asep Bacok Dedi, Pelipis dan Lengan Terluka

Syahrul mengakui bahwa ada upaya dari pihak rektorat agar mahasiswa tak merapat dengan aksi dosen. Tapi Syahrul beranggapan lain, mahasiswa harus terlibat sebab di lingkungan akademik mahasiswa harus kritis, rajin mempertanyakan persoalan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak