facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Perang Sarung di Bulan Puasa, Beken di Era 80-an sebagai Lelucon Sekarang Makan Korban

Galih Prasetyo Rabu, 13 April 2022 | 14:05 WIB

Perang Sarung di Bulan Puasa, Beken di Era 80-an sebagai Lelucon Sekarang Makan Korban
Polisi menunjukan sarung yang digunakan para pemuda saat melakukan aksi perang sarung di Bogor, Minggu (3/4/2022). [SuaraBogor.id/Devina]

"Dulu itu namanya ucing babuk (kucing pukul), memang sama sarung diiket ujungnya untuk memukul lawan,"

SuaraJabar.id - Aksi tawuran menjadi permasalahan sosial yang seakan tak kunjung tuntas. Bukannya di bulan suci Ramadan, malah semakin marak terjadi. Termasuk di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bahkan kini muncul fenomena tawuran yang menggunakan sarung alias perang sarung. Bukan sekedar sarung, namun di dalamnya ada benda-benda tumpul dan tajam yang bisa melukai dan berujung kriminal.

Di Kota Cimahi dan Bandung Barat, tawuran dengan modus perang sarung sudah terjadi beberapa kali selama bulan Ramadan 1443 Hijriah ini. Peristiwa yang selalu terjadi lewat tengah malam hingga menjelang sahur.

Ketua Komunitas Tjimahi Heritage Machmud Mubarok mengatakan, 'perang sarung' sebetulnya sudah ada sejak tahun 1980-an. Hanya saja dulu murni sebatas candaan sebab sarung yang digunakan sama sekali tidak dipadukan dengan benda-benda yang membahayakan.

Baca Juga: Marak Perang Sarung, 8 Remaja di Bogor Diamankan Tim Kujang Karena Bawa Senjata Tajam

"Dulu itu namanya ucing babuk (kucing pukul), memang sama sarung diiket ujungnya untuk memukul lawan. Cuma tidak kriminal seperti sekarang," ungkap Machmud saat dihubungi Suara.com pada Rabu (13/4/2022).

Zaman dulu, kata dia, 'perang' menggunakan sarung murni memang hanya sebatas candaan anak-anak ketika menunggu salat tarawih di bulan puasa. Itupun, hanya dilakukan antarteman setongkrongan.

Kondisinya jauh berbeda dengan kekinian, dimana perang sarung yang mayoritas dilakukan anak-anak dan remaja itu dilakukan antarkelompok hingga antarkampung. Ujung-ujungnya saling melukai hingga timbul korban.

"Dulu memang sarung saja. Ada di setiap Ramadan semua pada ngumpul di masjid sebelum tarawih main. Saya juga heran perang sarung sekarang malah batu, itu niatnya untuk mencelakai," sebut Machmud.

Menurut Machmud, bergesernya fenomena Perang sarung yang kini mengarah ke kriminal lantaran pengaruh media sosial. Dimana keberadaan media sosial ini membuat para remaja dengan mudahnya berkomunikasi hingga terjadi aksi saling menantang.

Baca Juga: Tak Mau Perang Sarung Makan Korban, Hengky Kurniawan Minta TNI dan Polri Lakukan Ini

"Jadi memang melanjutkan sisi lain dari geng-geng-an. Saling tantang, ketemu perang," tukasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait