Jangan Anggap Remeh! Ini Cara Tepat Obati Luka Diabetes Agar Terhindar dari Ancaman Amputasi

Dokter dari Eka Hospital Depok, dr. Tom Christy Adriani, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai penanganan luka yang tepat dan aman adalah kunci untuk menyelamatkan kualitas.

Andi Ahmad S
Jum'at, 26 Desember 2025 | 13:24 WIB
Jangan Anggap Remeh! Ini Cara Tepat Obati Luka Diabetes Agar Terhindar dari Ancaman Amputasi
Dokter dari Eka Hospital Depok, dr. Tom Christy Adriani [Andi Ahmad S/Suara.com]
Baca 10 detik

Gula darah tinggi, kerusakan saraf, dan aliran darah buruk memicu luka diabetes sulit sembuh. Kondisi ini kini mengancam usia produktif akibat gaya hidup yang tidak sehat.

Luka diabetes bukan sekadar luka biasa karena berisiko infeksi parah hingga amputasi. Penanganan yang salah atau terlambat dapat berakibat fatal dan menurunkan kualitas hidup pasien secara permanen.

Penyembuhan luka memerlukan kontrol gula darah, pembersihan jaringan mati, dan perawatan modern. Kedisiplinan pasien dalam pengobatan komprehensif sangat krusial untuk mencegah infeksi lebih lanjut dan mempercepat pemulihan.

SuaraJabar.id - Penyakit diabetes melitus kini tidak hanya mengintai kalangan lansia, namun juga mulai menyerang kelompok usia produktif, akibat gaya hidup yang kurang sehat.

Salah satu komplikasi paling menakutkan dari penyakit ini adalah luka diabetes atau diabetic foot ulcer.

Kondisi ini bukan sekadar luka biasa, jika dibiarkan atau ditangani sembarangan, risikonya bisa fatal hingga berujung pada amputasi.

Dokter dari Eka Hospital Depok, dr. Tom Christy Adriani, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai penanganan luka yang tepat dan aman adalah kunci untuk menyelamatkan kualitas hidup pasien.

Baca Juga:Surat Edaran Gubernur Jabar Bikin Heboh, Semua Pihak Diimbau Donasi Rp1.000 Per Hari, Apa Tujuannya?

Luka ini terjadi akibat kombo mematikan dari kadar gula darah yang tidak terkontrol, gangguan saraf (neuropati), dan gangguan aliran darah.

Seringkali pasien atau keluarga pasien bingung mengapa luka kecil pada penderita diabetes bisa melebar dan tak kunjung kering.

Menurut dr. Tom Christy Adriani, ada empat faktor utama yang menjadi biang keroknya;

"Pertama Kadar Gula Darah Tinggi. Ini adalah musuh utama. Gula darah yang tinggi menghambat regenerasi jaringan dan melemahkan sistem imun tubuh dalam melawan bakteri," katanya kepada wartawan di Bogor, Jumat 26 Desember 2025.

Kedua Neuropati Diabetik. Kerusakan saraf membuat kaki mati rasa. Akibatnya, pasien sering tidak sadar saat kakinya terluka, sehingga penanganan terlambat.

Baca Juga:Jawa Barat Ambil Alih RSUD Kota Bogor, Siap Jadi Pusat Rujukan Regional

Ketiga yakni Sirkulasi Darah Buruk. Kata dr. Tom, aliran darah yang mampet membuat oksigen dan nutrisi gagal mencapai jaringan luka, sehingga proses penyembuhan melambat.

"Infeksi. Luka yang terbuka menjadi gerbang masuk bakteri yang memperparah kondisi," imbuhnya.

Lanjut dia, pengobatan luka diabetes tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Diperlukan pendekatan komprehensif agar pasien bisa pulih total.

Berikut adalah prinsip pengobatan yang disarankan oleh dr. Tom Christy Adriani:

1. Kontrol Gula Darah adalah Wajib

Langkah paling mendasar adalah menstabilkan gula darah. Pasien harus disiplin mengonsumsi obat, menjaga pola makan (diet rendah gula), dan tetap rutin melakukan aktivitas fisik. Tanpa gula darah yang stabil, regenerasi jaringan mustahil terjadi.

2. Pembersihan Luka Rutin

Jangan asal membersihkan. Luka harus dibersihkan berkala menggunakan cairan steril untuk membuang kotoran dan bakteri yang bersarang.

3. Debridement (Angkat Jaringan Mati)

Ini adalah tindakan medis krusial untuk mengangkat jaringan yang sudah mati atau terinfeksi. Tujuannya agar jaringan kulit yang sehat bisa tumbuh kembali dengan optimal.

4. Perawatan Luka Modern

Teknologi medis kini sudah canggih. Perawatan luka diabetes kini menggunakan metode seperti balutan khusus penjaga kelembapan, Terapi Tekanan Negatif hingga Terapi Oksigen Hiperbarik.

"Metode ini terbukti lebih efektif dibandingkan perawatan konvensional jika dilakukan sesuai indikasi medis," jelas dr. Tom.

5. Hajar Infeksi dengan Antibiotik Tepat

Jika muncul tanda merah, bau tidak sedap, atau nanah, dokter akan meresepkan antibiotik. Ingat, penggunaan antibiotik harus sesuai resep dokter dan tidak boleh sembarangan.

6. Kurangi Tekanan (Offloading)

Tekanan pada telapak kaki memperlambat penyembuhan. Pasien sangat disarankan menggunakan alas kaki khusus untuk mengurangi beban pada area luka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak