- PT Brexa Holdings Jepang meresmikan fasilitas pelatihan di Bogor pada 5 Februari 2026 untuk meningkatkan profesionalisme Pekerja Migran Indonesia.
- Fasilitas baru tersebut menampung 250 siswa, dengan target jangka panjang membangun pusat pelatihan berkapasitas seribu siswa berkualitas tinggi.
- Brexa menargetkan pemberangkatan sekitar 4.000 PMI pada tahun 2026, sambil mengatasi tantangan etika kerja lintas budaya seperti penggunaan media sosial.
SuaraJabar.id - Sektor Pekerja Migran Indonesia (PMI) menuju Jepang semakin profesional dengan kehadiran PT Brexa Holdings Jepang.
Kamis 5 Februari 2026 Presiden Director PT Brexa Holdings Jepang, Yuya Ono, meresmikan Grand Opening Brexa Academy Cross Border yang berlokasi di Wisma Hafid Jalan Raya Narogong KM 18, Limus Nunggal, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Fasilitas baru ini menandai langkah besar dalam penyiapan tenaga kerja terampil yang berkualitas tinggi untuk pasar Jepang, sekaligus membuka peluang bagi milenial dan Gen Z Indonesia.
Yuya Ono menjelaskan bahwa fasilitas baru di Bogor ini memiliki kapasitas 250 siswa. Namun, target Brexa adalah membangun pusat pelatihan dengan kapasitas 1.000 siswa di masa depan, dengan kualitas pelatihan yang sama tinggi atau bahkan lebih baik.
Baca Juga:Aditya Hoegeng Ungkap Kisah Eyang Meri: Di Belakang Orang Kuat Ada Orang Hebat
"Kegiatan grand opening kapasitas 250 kita membangun disana dengan kapasitas 1 ribu dengan kuwalitas tetap atau lebih tinggi. Dan grand openingnya hari ini," kata Yuya Ono.
Brexa Holdings Jepang ini kata dia memiliki target pemberangkatan PMI yang signifikan. Untuk tahun 2025, sekitar 3.500 PMI telah diberangkatkan, dan tahun ini, targetnya meningkat menjadi sekitar 4.000 orang.
"Untuk target sendiri kami mempunyai selain disini ada 9 training center lain di berbagai daerah. Nah tempat daerah itu dijadikan pendidikan awal. Ketika pindah ke sini sudah ada di level ditetapkan untuk diberangkatkan ke Jepang dengan skil yang tinggi," jelas Ono kepada wartawan.
Lanjut dia, durasi pelatihan kerja Jepang antara 6 hingga 12 bulan, tergantung jenis pekerjaan, Brexa memastikan setiap PMI dibekali dengan skill tinggi yang sesuai standar Jepang.
Yuya Ono secara terbuka mengakui adanya tantangan terkait etika kerja PMI di Jepang. Untuk mengatasi hal ini, Brexa tentunya kata dia memiliki pendekatan komprehensif.
Baca Juga:Sentil Carut-Marut Tambang Emas Ilegal di Bogor, Dedi Mulyadi: Data Saja Susah Karena Banyak Pemain
"Pertama disana kan ada Brexa Cross Border disana, kita punya staf di Jepang orang Indonesia juga yang menangani ketika ada masalah. Selain itu ketika ada masalah besar kecilnya ke Indonesia," ungkapnya.
Salah satu fokus utama adalah penggunaan media sosial di pabrik. "Kita beda budaya Jepang dan Indonesia. Tapi yang sekarang lagi marak sosial media, di mana mereka yang memotret atau mau buat video di dalam Pabrik tidak boleh, nah hal seperti itu yang masukkan ke dalam pembelajaran lintas budaya," jelas Ono.
Selain itu, judi online menjadi perhatian serius. "Di Indo mungkin masih abu-abu. Nah kalau di Jepang itu ketahuan main dia langsung ditangkap Polisi dan dideportasi," katanya.
Terkait usia pekerja, Brexa menerima PMI mulai dari 18 hingga 20 tahun, namun juga terbuka untuk usia di atas itu selama ada kebutuhan dari klien di Jepang.
"Jangan sampai ada usia 30 tapi klien tidak ada, itu kasihan kan kita juga belajar," kata Ono.
Brexa sendiri tambah dia telah berkolaborasi dengan lebih dari 170 sekolah, menunjukkan jangkauan luas dalam penyiapan tenaga kerja Indonesia.