- Seorang pemuda berinisial RR tewas akibat luka tusuk fatal setelah cekcok pembelian minuman keras oplosan di Sukabumi.
- Insiden terjadi pada Senin malam (23/3/2026) di Jalan Lingkar Selatan Baros, dipicu perselisihan kekurangan uang saat transaksi miras.
- Korban meninggal dunia di rumah sakit sebelum sempat menjalani operasi darurat karena mengalami syok berat akibat luka tusukan.
SuaraJabar.id - Sebotol minuman keras (miras/mihol) kembali meminta tumbal nyawa di jalanan Kota Sukabumi. Kali ini, sebuah insiden berdarah yang dipicu oleh adu mulut sepele berujung pada tewasnya seorang pemuda berusia 28 tahun berinisial RR.
Kejadian memilukan nan brutal ini pecah di kawasan Jalan Lingkar Selatan (Lingsel), tepatnya di Kampung Sudajaya Hilir RT 06/02, Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, pada Senin malam (23/3/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Warga sekitar yang tengah bersiap istirahat mendadak digegerkan oleh keributan mematikan tersebut.
Korban RR, yang tercatat sebagai warga Jalan Pabuaran, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, harus menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melewati masa kritis yang sangat menyiksa di meja operasi rumah sakit.
Lantas, apa yang memicu pertumpahan darah malam itu? Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, IPDA Ade Ruli, membeberkan kepingan kronologi awal berdasarkan kesaksian warga di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Baca Juga:Nekat Bawa Keluarga di Bak Terbuka Masuk Tol Bocimi, Pikap Asal Jakarta Dicegat Paksa Polisi
Polisi telah menggali keterangan dari dua saksi kunci yakni F (52), seorang perempuan pemilik warung bubur terdekat, dan B (26), seorang pedagang basreng yang berada tak jauh dari titik pusaran konflik.
Malam itu, korban RR mendatangi sebuah lapak penjual bensin eceran yang dijaga oleh W dan B. Di balik jeriken bensin tersebut, rupanya lapak itu juga menjajakan minuman jenis jamu yang diduga kuat mengandung campuran alkohol (miras oplosan).
Niat RR untuk menenggak miras terbentur oleh realita isi dompetnya. “Saat hendak melakukan transaksi pembelian miras tersebut, uang yang dibawa oleh korban ternyata kurang (tidak mencukupi harga jual),” ungkap IPDA Ade Ruli membeberkan akar masalahnya.
Kekurangan uang receh itu menyulut sumbu emosi. Korban yang diduga tak terima, mulai menaikkan nada bicaranya. Cekcok mulut yang sengit pun meledak antara korban dan penjaga lapak.
Situasi dengan cepat memanas tak terkendali. Adu argumen berubah menjadi kekerasan fisik. “Korban diduga dikeroyok, dan puncaknya, salah satu terduga pelaku berinisial W merespons dengan kejam. Akibat kejadian tersebut, korban menderita luka tusuk yang sangat fatal di bagian perut,” tambah Ade Ruli.
Baca Juga:Bayar Karcis Tapi Lepas Tangan Nyawa Melayang? Dispar Usut Tiket "Siluman" Pantai Tenda Biru
Tubuh RR ambruk bersimbah darah di aspal Lingsel. Petugas dari Polsek Baros yang menerima laporan warga segera meluncur ke lokasi dan langsung mengevakuasi tubuh korban yang sekarat menuju RSUD R. Syamsudin SH (RS Bunut) untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.
Namun, luka yang diderita RR teramat parah. Humas RSUD R. Syamsudin SH, dr. Irfan Nugraha, menceritakan detik-detik menegangkan saat korban didorong masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada pukul 23.00 WIB.
“Kondisi pasien saat pertama kali tiba di IGD sudah tampak sangat sakit berat. Kesadarannya sudah menurun drastis, dan secara medis sudah menunjukkan tanda-tanda syok berat akibat pendarahan hebat,” papar dr. Irfan dikutip dari sukabumiupdate.com, Selasa (24/3/2026).
Pemandangan dari hasil observasi luka sungguh mengerikan. Dokter Irfan menyebut senjata tajam milik pelaku tak hanya mengoyak satu titik.
"Luka tusuk yang paling parah menganga di bagian perut, saking dalamnya hingga menyebabkan usus pasien tampak keluar. Selain itu, kami juga menemukan luka tusukan lain di area dada kiri dan bagian pelipis," rincinya ngeri.
Tim dokter dan perawat IGD RS Bunut berlomba dengan waktu kematian. Mereka langsung melakukan tindakan resusitasi (penyelamatan nyawa) tingkat tinggi secara maraton.