- Keluarga Nia (33) terjebak macet ekstrem di jalur alternatif Cikidang pada Senin sore (23/3/2026) saat arus balik dari Simpenan menuju Parungkuda.
- Kemacetan parah mencapai puncaknya di Tanjakan Pasir Bilik sekitar pukul 19.00 WIB, menyebabkan motor mereka *overheat* dan kesulitan mencari logistik dasar.
- Setelah terjebak hingga dini hari, mereka mengikuti saran polisi memutar balik arah, dan akhirnya tiba di Parungkuda Selasa pagi pukul 08.00 WIB.
SuaraJabar.id - Perjalanan arus balik Lebaran yang seharusnya menjadi momen membahagiakan berkumpul kembali di rumah, berubah menjadi siksaan panjang nan melelahkan bagi Nia (33).
Wanita asal Parungkuda, Kabupaten Sukabumi ini, bersama suami dan anak balitanya, harus merasakan pahitnya terkunci (terjebak macet ekstrem) di jalur alternatif Cikidang hingga belasan jam lamanya.
Nia menuturkan kronologi mimpi buruk tersebut. Tragedi bermula saat keluarga kecil ini berniat pulang dari rumah sang mertua di kawasan Simpenan, menuju kediamannya di Parungkuda pada Senin sore (23/3/2026).
Jarum jam baru menunjuk pukul 15.30 WIB saat mereka memacu sepeda motor, dengan penuh percaya diri memilih "jalur potong kompas" melintasi rute Cikidang (via depan Pengadilan Palabuhanratu).
Baca Juga:Nekat Nyalip! Pikap L300 Terbang Tembus Trotoar dan Terguling Beda Jalur di Flyover Cisaat
Namun, kepercayaan diri itu tak bertahan lama. Belum genap satu jam ban motor menggelinding, "aroma" kemacetan horor sudah mulai terendus kuat.
“Mulai masuk kawasan Cikidang via depan pengadilan, itu jalanan udah macet banget. Kendaraan cuma bisa maju sedikit-sedikit, seakan merayap,” buka Nia menceritakan kengerian sore itu.
Ia sempat merapal harap agar kondisi di depan akan segera mengurai, namun realita aspal justru kian memburuk seiring tenggelamnya matahari.
Puncak penyiksaan itu tiba saat mereka mendaki kawasan legendaris: Tanjakan Pasir Bilik. Sekitar pukul 19.00 WIB, lautan kendaraan di jalur ekstrem tersebut benar-benar mati kutu (stuck). Tak ada yang bisa bergerak maju maupun mundur barang satu sentimeter pun.
Kondisi mesin yang dipaksa bekerja ekstra keras menahan beban di tanjakan curam, ditambah ritme stop-and-go, akhirnya menyerah.
Baca Juga:Ngeri! Keluar Tol Parungkuda Langsung Oleng, Toyota Calya Terguling Hantam Dua Mobil
“Di Tanjakan Bilik jam 7 malam itu, lalu lintas udah benar-benar nggak ada pergerakan. Saking parahnya, motor suami saya sampai overheat (kepanasan mesin) dan keluar asap ngebul,” kisahnya.
Atas saran dari sesama pemudik yang senasib, Nia dan suaminya terpaksa menepi darurat ke bahu jalan demi menyelamatkan mesin motor agar tak turun mesin total.
Di titik itulah, penderitaan yang sesungguhnya dimulai. Pemandangan di sekitar mereka bak lokasi pengungsian darurat.
Jalanan gelap gulita karena minimnya fasilitas penerangan jalan umum (PJU), ditambah rintik gerimis yang mulai turun membasahi bumi, membuat suasana semakin mencekam dan membekukan tubuh.
Hidung Nia terus diserang oleh bau menyengat dari kampas rem dan plat kopling ribuan mobil yang hangus terbakar akibat dipaksa merayap mendaki di tengah kemacetan ekstrem. Banyak mobil penumpang dilaporkan mogok total hingga harus didorong beramai-ramai oleh warga setempat.
Keterbatasan fasilitas fisik di area pegunungan itu menjadi tantangan survival (bertahan hidup) tersendiri. Ribuan perut keroncongan dan kerongkongan yang haus tak sebanding dengan pasokan yang ada.