SuaraJabar.id - Berawal dari melihat, lalu tertarik untuk mencoba hingga ketagihan. Itulah awal Kent Kent menggeluti seni merajah tubuh. Pada akhir tahun 80-an, ia mulai mengawali karirnya sebagai tatoist. Kini, Kent memiliki studio tato bernama Kent-Tatto.
"Awalnya dulu melihat tukang tato, namanya Ayi Tato sedang mentato gitu, dari sana saya mulai tertarik untuk belajar tato," kata Kent baru-baru ini.
Kiprahnya dalam seni merajah tubuh pun dimulai. Lulusan sarjana Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Telkom Bandung itu, mengatakan sempat salah kaprah dalam memaknai profesi sebagai tatoist.
Akibat salah memahami dalam menjalankan profesinya itu, Kent mengaku sempat mengalami over dosis (OD) akibat kecanduannya terhadap narkoba.
"Saya menganggap jadi tukang tato itu preman di atas preman. Jadi preman dilantik dulu sama tukang tato. Itu salah jalan. Saya sampai sempat OD juga, tapi ternyata itu salah," tukasnya.
Akibatnya, Kent yang kala itu bekerja sebagai desain grafis di salah satu media cetak terkemuka di Bandung harus berujung nahas diberhentikan mendadak karena ketauan OD.
"Ketauan OD, akhirnya saya dikeluarkan sama kantor," katanya.
Namun, rasa putus asa Kent perlahan hilang. Titel pengangguran yang dia pegang ternyata membuka peluangnya untuk lebih serius menekuni profesi sebagai tukang tato.
Ayah empat anak itu berkisah, awalnya ia memberanikan diri mentato tukang becak yang iapun tak tahu namanya. Singkat cerita, tukang becak itu ditato oleh Kent. Jenis gambar tatonya pun, ucap dia, kala itu sebetulnya tidak jelas karena tidak sampai selesai.
Baca Juga: Viral Emak-emak Protes Mahalnya Biaya Wisuda, Unikom Buka Suara
"Si akang tukang becak itu keburu lari karena takut, motifnya baru cuma garis-garis aja, padahal saya bayar dulu buat tato dia," imbuhnya.
Namun, lama kelamaan dia menyelami hobi menggambarnya itu sehingga semakin lama kemampuannya merajah tubuh dengan tinta berkelir rupa-rupa semakin terasah.
Menurutnya, perkembangan tato terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, proses mentato dan kedua perkembangan gambar tato. Kedua unsur itu, kata dia, pada akhirnya saling mempengaruhi. Proses mentato terbagi ke dalam dua kategori, yakni old school (era dulu) dan new school (era sekarang). Kent menekankan pada periodesasi berdasarkan waktu.
Era dulu, tatoist itu cenderung melakukan kegiatan mentato sendirian. Dari mulai menyiapkan alat-alat tato, seperti mesin dan jarum hingga membuat tinta pun dilakukan oleh si empunya tato. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, kata dia, seni tato pun mengalami perubahan cukuo besar. Dimana bagian-bagian penting urusan teknis dalam membuat tato menjadi terspesialisasi.
"Tugas tato artis hanya membuat tato saja, alatnya udah ada dan semakin canggih. Kemudian dari segi sterilisasinya pun tentu lebih diperhatikan seperti sanitasi, kebersihan ruangan dan yang lainnya, studio tato itu sekarang sudah seperti ruangan di rumah sakit," jelasnya.
Hal itu, kata dia, menjadi salah satu pilar perkembangan tato kian pesat dewasa ini. Minat orang untuk menjalani profesi sebagai tato artis pun kian membeludak. Sebab, ketika disokong dengan kelengkapan alat-alat tato lebih memungkinkan orang yang sedang belajar mentato bisa mendapatkan hasil maksimal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Kejutan Kasus BJB! 5 Fakta KPK Buka Peluang Panggil Aura Kasih Terkait Aktivitas Ridwan Kamil
-
Aditya Hoegeng Ungkap Kisah Eyang Meri: Di Belakang Orang Kuat Ada Orang Hebat
-
Sentil Carut-Marut Tambang Emas Ilegal di Bogor, Dedi Mulyadi: Data Saja Susah Karena Banyak Pemain
-
Hari ke-11 Longsor Cisarua: 85 Jenazah Berhasil Dievakuasi, 68 Korban Teridentifikasi
-
Jenderal Listyo Sigit: Pesan Eyang Meri Hoegeng adalah Api yang Menggelora bagi Anggota Polri