Scroll untuk membaca artikel
Chandra Iswinarno
Rabu, 02 Desember 2020 | 11:00 WIB
Tujuh orang penyeru azan jihad asal Majalengka, menyatakan permohonan maaf, baik secara lisan maupun tertulis. [FOTO: tangkap layar]

Sebelumnya, polemik azan yang menyelipkan kata hayya ala aljihad dan beredar luas di media sosial (medsos) memantik perdebatan berbagai kalangan.

Banyak pihak yang kontra pun pro dengan azan yang menyelipkan kata ‘hayya ala aljihad’  dan kini viral di medsos.

Menanggapi azan yang digubah tersebut, Ahli fiqih Ahmad Ad Damakiyah menyatakan, jika azan dan ikamah adalah bentuk ibadah yang harus mengikuti petunjuk dari nabi.

Jika mengubah kalimat azan atau ikomah dari shighot yang telah ditetapkan oleh syara’, dia menyatakan hukumnya haram karena termasuk dalam kategori melakukan ibadah yang fasidah (rusak).

Baca Juga: Asal Muasal Azan Hayya Alal Jihad: Diciptakan Teroris Arab Saudi

“Kecuali penambahan kalimat ‘ala sholluu fi rihalikum’ saat melantunkan azan di malam hari kondisi gelap akibat cuaca mendung, maka hukumnya sunnah,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima oleh TIMES Indonesia-jaringan Suara.com pada Selasa (1/1/2020).

Selain itu, dia menegaskan, model azan yang beredar model diubah dan ada penambahan kata-kata ‘hayya ala al-jihad’ itu hukumnya haram.

Kecuali, lanjutnya, jika mengucapkan kalimat-kalimat tersebut semata-mata dengan niat zikir.

Load More