Scroll untuk membaca artikel
Suhardiman
Sabtu, 03 Juli 2021 | 13:42 WIB
Ana Gugum alias Apep (40), mantan berandalan yang kini jadi juragan sapi saat menunjukkan sapi miliknya. [Suara.com/Ferry Bangkit Rizki]

Baru pada 2005 Apep bekerja menjadi buruh rawat sapi (maro). Ia merawat 10 ekor sapi yang dipinjamkan kenalannya dari Balai Inseminasi Bibit (BIB) Lembang.

"Saat itu saya belum punya kandang, nekat saja, akhirnya saya terpaksa memasukkan sapi itu ke dalam rumah, tinggal bersama saya dan anak. Sapi saya simpan di dapur," katanya.

Kehidupan itu dilakoninya selama dua tahun. Sampai akhirnya ia memenangkan kontes ternak. Ia pun mencoba peruntungan dengan menjual hewan kurban.

"Dari sana saya mulai termotivasi untuk mengembangkan peternakan," katanya.

Baca Juga: Vaksinasi Massal di Diskes Lampung Timbulkan Kerumunan, Eva Dwiana Turun Tangan

Usaha suplai sapi Apep mulai berjalan ketika ia bertemu dengan pengusaha pembibitan sapi perah betina di Sukabumi. Perusahaan asal Sukabumi itu kemudian bangkrut. Ia kini jadi juragan sapi.

"Akhirnya saya yang menutupi pemesanannya, dan berlanjut hingga sekarang," katanya.

Kini Apep sudah menuai sukses dari usaha penjualan sapinya. Meski pernah merugi hingga ratusan juta. Mulai dari sapi yang mati saat pengiriman, hingga ditipu orang.

Idul Adha pun menjadi momen yang selalu ditunggu. Sebab, banyak pesanan sapi dari berbagai daerah di Indonesia. Mantan preman itu adalah salah satu pemasok sapi skala nasional.

Penjualan Naik

Baca Juga: Ingin Jadi Penulis, Ketahui Problematika Dan Lika-Liku Dunia Literasi Indonesia

Saat pandemi Covid-19 penjualannya malah semakin naik. Sebelum pandemi, penjual sapi hanya sekitar 300-400 ekor. Penjualannya meningkat saat pandemi menjadi 512 ekor.

Load More