SuaraJabar.id - Warga di Bandung Raya termasuk di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dihebohkan dengan kemunculan empat bintang yang berjajar tegak lurus di langit.
Keempat bintang yang berada di ufuk timur itu
memiliki cahaya berbeda-beda. Fenena astronomi tersebut bisa diamati dengan mata telanjang, utamanya sebelum dan setelah waktu sahur.
"Betul tadi setelah salat subuh, ada bintang berbaris di langit. Bagus banget, kurang tau itu fenomena apa," ujar Reza (18), warga Kota Cimahi pada Sabtu (23/4/2022).
Juru Bicara Observatorium Bosscha, Yatny Yulianti menjelaskan empat cahaya berjejer di langit Bandung tersebut, merupakan penampakan empat planet terang yakni Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus.
Menurutnya, planet-planet ini bisa diamati dalam konfigurasi berbaris ketika mereka berada di orbitnya, sehingga dilihat dari Bumi berada di satu garis khayal atau garis ekliptika langit.
"Fenomena ini sudah bisa diamati di langit bersamaan sejak akhir bulan Maret, tapi posisinya belum satu baris seperti sekarang. Kita baru bisa melihat posisi meraka hampir satu baris sejak sekitar pertengahan bulan April dan akan berlangsung hingga akhir April ini," terang Yatny saat dihubungi.
Menurut Yatni yang juga seorang astrono, fenomena berbarisnya planet-planet bukan peristiwa langka, tapi juga bukan peristiwa rutin. Barisan planet terakhir kali pada Juli 2020, saat itu tiga planet Merkurius, Venus, dan Mars bisa diamati di langit sebelum Matahari terbenam. Ketiganya jarak pisah di langit cukup besar.
Sebelumnya, bahkan sempat ada lima planet terang dapat diamati berbaris pada April 2002. Saat itu ada Jupiter, Saturnus, Mars, Venus, dan Merkurius.
Jadi pada bulan April ini ada 4 planet terang dapat diamati bersamaan merupakan fenomena yang menarik untuk diamati, terutama karena untuk mengamati planet terang cukup dengan mata, masyarakat tidak perlu alat yang khusus atau pergi ke lokasi yang spesifik.
Baca Juga: Link Live Streaming Pengamatan Hilal di Observatorium Bosscha Bandung
Apalagi posisi Venus dan Jupiter semakin dekat hingga akan berada pada posisi terdekat (keduanya) pada 1 Mei 2022.
"Peristiwa ini disebut konjungsi. Nah, ini menarik juga karena jarak dekat memungkinkan untuk berada dalam satu medan pandang untuk diamati di teleskop atau dipotret bagi yang senang dengan fotografi," papar Yatny.
Fenomena berbarisnya planet ini akan terjadi kembali pada 8 Sept 2040, jadi ini kesempatan yang istimewa. Yuk, nanti malam sempatkan dongakkan ke atas langit Bandung untuk melihat keindahannya.
Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki
Berita Terkait
-
Link Live Streaming Pengamatan Hilal di Observatorium Bosscha Bandung
-
Observatorium Bosscha Lembang Pantau Hilal 1 Ramadhan 1443 Hijriah
-
Catat, Cara Nikmati Gerhana Bulan Total Malam Ini di Observatorium Bosscha
-
Lebih Banyak Jumlah Pasir di Bumi atau Bintang di Langit?
-
Jutaan Bintang di Langit, Bisakah Kita Beli dan Namai Sendiri?
Terpopuler
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Berapa Biaya Bulanan Motor Listrik Indomobil eMotor Tyranno?
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- Fajar Sadboy Kecelakaan, Keluarga Pingsan Dengar Kabar
Pilihan
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
Terkini
-
Gedung MUI Kabupaten Sukabumi Disegel: Kontraktor Klaim Belum Dibayar, MUI Sebut Sudah Lunas
-
20 Tahun Lolos, 'Ki Bedil' Sang Maestro Senpi Ilegal Jawa Barat Akhirnya Diringkus Bareskrim
-
Tabrakan Maut Dua Motor di Pantai Ujunggenteng Sukabumi, Agus Gunawan Tutup Usia
-
4 Poin Penting di Balik Skandal Dugaan Jual Beli Jabatan, yang Guncang 14 ASN di Kabupaten Bogor
-
Perkuat Transformasi Digital, BRI Kantongi Sertifikasi ISO/IEC 25000