Ini adalah garda terdepan. Bukan deodoran biasa, tapi produk antiperspirant yang mengandung aluminium klorida dalam konsentrasi tinggi. Fungsinya untuk menyumbat saluran kelenjar keringat untuk sementara waktu.
2. Iontophoresis
Sebuah prosedur non-invasif yang cocok untuk tangan dan kaki. Kamu akan merendam tangan atau kakimu di dalam air yang dialiri listrik bertegangan rendah. Terdengar menyeramkan? Tenang, ini aman dan berfungsi untuk "mematikan" sementara aktivitas kelenjar keringat.
3. Suntikan Botox
Ya, botox tidak hanya untuk kecantikan! Suntikan botulinum toxin di area seperti ketiak sangat efektif untuk memblokir sinyal saraf yang memerintahkan kelenjar untuk memproduksi keringat. Efeknya bisa bertahan selama beberapa bulan.
4. Obat-obatan Oral (Tablet)
Untuk kasus yang lebih luas, dokter bisa meresepkan obat jenis antikolinergik. Obat ini bekerja secara sistemik untuk mengurangi produksi keringat di seluruh tubuh. Namun, penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter ketat karena potensi efek sampingnya.
5. Operasi ETS (Endoscopic Thoracic Sympathectomy)
Ini adalah solusi paling permanen dan menjadi pilihan terakhir jika cara lain gagal. Melalui prosedur bedah minimal invasif, dokter akan memotong atau menjepit simpul saraf simpatik di rongga dada yang bertanggung jawab atas keringat berlebih di tangan atau wajah.
Baca Juga: Dedi Mulyadi 'Naksir' RSUD Kota Bogor, Dedie Rachim Beri Lampu Hijau Bersyarat
Bagi pasien yang menjalani operasi ETS, hasilnya seringkali dramatis dan instan. Telapak tangan yang tadinya selalu basah bisa langsung kering permanen. Namun, ada satu efek samping yang paling umum terjadi, yaitu keringat kompensasi.
"Keringat berlebihan bisa muncul di area tubuh lain, seperti punggung, perut, paha, atau kaki. Kondisi ini terjadi karena tubuh mencari cara lain untuk melepaskan panas setelah jalur keringat utama diblokir," jelas dr. Stella yang berusia 34 tahun itu.
Tag
Berita Terkait
-
Dedi Mulyadi 'Naksir' RSUD Kota Bogor, Dedie Rachim Beri Lampu Hijau Bersyarat
-
Sound Horeg Ancam Pendengaran Permanen? Ini Penjelasan Dokter Guntur
-
7 Fakta Miris Kematian Balita Raya: Bukan Cacing, Sepsis dan Alarm untuk Layanan Kesehatan Kita
-
Menkes Budi: Balita Raya Meninggal Bukan karena 1 Kg Cacing, Tapi Sepsis Akibat Infeksi Kronis
-
Semarak HUT RI ke-80: Ketika Tenaga Medis Masa Depan Berdandan Ala Timnas di SMK Moestopo
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Muhammad Farhan Sampai Ngamuk, Polisi Dalami Unsur Pidana Penebangan 10 Pohon
-
Rabu Kelabu di Banjar, Kebakaran Hanguskan Tiga Rumah, Pemadaman Berlangsung Dramatis
-
Buddhayana Run 2026 Buktikan Olahraga Jadi Ruang Kebersamaan
-
Bareskrim Ungkap Perkembangan Kasus Emas Ilegal PT SPEM, Berkas Tiga Tersangka P-21
-
Dugaan Tramadol Dilindungi Oknum LSM di Cimahi, Dedi Mulyadi: Sikat Saja!