- Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Gunung Guruh, Bogor Barat, diduga telah menjadi sindikat terorganisir.
- Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor telah membawa temuan PETI ini ke Kejaksaan Agung RI untuk penanganan lebih lanjut.
- Operasi ilegal tersebut diduga melibatkan orang kuat serta mendapat dukungan dari oknum aparat di lokasi galian.
SuaraJabar.id - Praktik kotor pengerukan perut bumi di wilayah Bogor Barat kembali menjadi sorotan nasional. Bukan sekadar aktivitas warga biasa yang mencari sesuap nasi, Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Gunung Guruh, Kampung Cirangsad, Desa Banyuwangi, Kecamatan Cigudeg, kini diduga telah menjelma menjadi sindikat terorganisir yang melibatkan orang kuat.
Isu ini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor secara resmi telah membawa persoalan ini ke meja Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia. Langkah ini diambil menyusul laporan masif mengenai kerusakan ekosistem dan dugaan kebocoran uang negara akibat aktivitas ilegal tersebut.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Bogor, Denny Achmad, menegaskan bahwa radar mereka telah mendeteksi pergerakan di Gunung Guruh.
"Terkait PETI kami memang sudah mendapatkan laporan soal itu bahwa ada beberapa kegiatan galian di wilayah Kabupaten Bogor," jelas Denny Achmad belum lama ini kepada wartawan.
Eskalasi penanganan kasus ini menunjukkan tingkat keseriusan aparat penegak hukum. Persoalan Gunung Guruh kini bukan hanya urusan daerah, melainkan atensi pusat.
Denny mengaku telah berkoordinasi intensif dengan tim Kejaksaan Agung, khususnya Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).
"Kami sudah berkoordinasi dengan tim kejaksaan Agung. Nanti pemaparan di Kejaksaan Agung karena PKH itu tim nya dari pusat, makanya kami berkoordinasi terus terkait temuan yang adi di wilayah Kabupaten Bogor," ungkapnya.
Langkah ini menjadi sinyal bahaya bagi para pelaku. Turunnya Satgas PKH biasanya menandakan akan adanya operasi besar-besaran untuk menyikat habis mafia tambang yang merusak kawasan hutan lindung.
Berdasarkan investigasi lapangan, aktivitas di Gunung Guruh sudah jauh dari kata tradisional. Lokasi ini telah berubah wajah menjadi ladang industri ilegal yang sistematis. Para penambang liar atau gurandil tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang terstruktur.
Baca Juga: Tak Mau Ada Celah Korupsi! Bupati Bogor Gandeng KPK 'Pelototi' Proyek Tambang dan Jalan Leuwiliang
Fakta mengerikan terungkap bahwa banyak lubang galian emas ilegal tersebut sudah masuk tahap produksi aktif. Artinya, ada perputaran uang miliaran rupiah yang terjadi di sana setiap harinya, di luar pengawasan negara dan tanpa standar keselamatan (K3) yang memadai. Risiko longsor dan pencemaran merkuri seolah diabaikan demi kilau emas.
Dugaan kuat mengarah pada keterlibatan bos-bos besar pemain lama di wilayah Bogor Barat. Nama-nama mereka dikabarkan sudah menjadi rahasia umum di kalangan pelaku lapangan, namun selama ini seolah tak tersentuh hukum.
Seorang narasumber terpercaya membocorkan informasi yang membuat geram publik. Keberanian para pelaku beroperasi secara terang-terangan disinyalir karena adanya lampu hijau dari oknum berseragam.
"Di lokasi galian emas ilegal tersebut juga diduga dibekingi aparat," tegas sumber tersebut kepada SuaraJabar.
Bukti di lapangan pun seolah mengamini dugaan ini. Tim investigasi menemukan fasilitas pendukung yang tidak mungkin ada jika ini hanya tambang liar biasa.
Salah satunya adalah keberadaan lahan parkir yang dikelola secara khusus dan diduga milik oknum aparat. Parkiran ini menjadi hub logistik yang memuluskan mobilitas penambang dan material.
Tag
Berita Terkait
-
Tak Mau Ada Celah Korupsi! Bupati Bogor Gandeng KPK 'Pelototi' Proyek Tambang dan Jalan Leuwiliang
-
Mahasiswa di Bogor Akhiri Hidup di Kosan, Diduga Depresi Akibat Terjerat Judol
-
Tenda Putih Terpasang di Bogor, Keluarga Pramugari Esther Aprilita Pasrah Menanti Kabar dari Maros
-
Basarnas Pantau Ketat Kebakaran di Kedalaman Tambang Emas Pongkor
-
Viral Screenshot Jokowi Minta Jangan Dipenjara Soal Ijazah Palsu, Ini Fakta Sebenarnya
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Polri Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Pelecehan Seksual 5 Santri Laki-laki
-
Kabar Terbaru Jalur Selatan Garut, Buka Tutup Jalan di Bungbulang Usai Tertimbun Longsor
-
Kisah di Balik Literasi Senja: Dari Eksperimen Sederhana Menjadi Fondasi Peradaban Kota Cirebon
-
Fundamental Kokoh, BRI Optimistis Tumbuh dengan Dividen Rp52,1 Triliun
-
Ritual di Gunung Padang Ingatkan Manusia Berhenti Eksploitasi Bumi