Wakos Reza Gautama
Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:20 WIB
warga Sumedang yang terlantar di Papua berhasil pulang. [harapanrakyat]
Baca 10 detik
  • Lima buruh bangunan dari Wado, Sumedang, berhasil kembali ke Terminal Ciakar pada Jumat (13/3/2026) malam.
  • Mereka sempat terlantar sekitar sebulan di hutan Yahukimo, Papua, setelah mandor menghilang tanpa memberikan upah.
  • Kepulangan mereka difasilitasi pemerintah daerah dan disambut Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

SuaraJabar.id - Di saat ribuan orang bersiap mudik dengan senyum merekah, lima pria asal Kecamatan Wado, Sumedang, menapakkan kaki di Terminal Tipe A Ciakar dengan perasaan yang jauh berbeda.

Bukan sekadar pulang kampung, kepulangan mereka pada Jumat (13/3/2026) malam adalah sebuah "mukjizat" setelah sempat terlantar dan kehilangan harapan di pedalaman Papua.

Rahya Efendi, Dedi, Jaja, Yusuf Maulana, dan Dede Gunawan, lima buruh bangunan ini, tiba dengan wajah letih namun lega.

Kehadiran mereka disambut langsung oleh Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, dan Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika.

Pos Terpadu Pengamanan Mudik yang biasanya riuh oleh pemudik biasa, mendadak menjadi saksi haru bersatunya kembali warga yang nyaris hilang di perantauan.

Kisah pilu ini bermula dari tawaran sederhana. Pekerjaan di Kabupaten Yahukimo dengan janji upah menggiurkan. Tanpa curiga, mereka berangkat, menyeberangi pulau demi memperbaiki nasib keluarga. Namun, setibanya di Distrik Dekai, mimpi itu runtuh seketika.

“Awalnya diajak teman, katanya mau dipekerjakan di Yahukimo. Kami nggak tahu kalau itu ternyata zona merah,” kenang Jaja, salah satu pekerja, dengan nada suara yang masih menyisakan getir.

Alih-alih bekerja di proyek bangunan yang layak, mereka justru dibawa masuk ke dalam hutan, jauh dari permukiman warga.

Di sana, kebebasan mereka dirampas oleh keadaan. Mereka dilarang keluar malam dan harus terus bersembunyi di bawah bayang-bayang ketidakamanan wilayah tersebut.

Baca Juga: Mengawal Senyum Buruh: Kala Ribuan Karyawan Kahatex Cairkan THR di Bawah Penjagaan Ketat Polisi

Penderitaan mereka memuncak ketika sang mandor yang membawa mereka menghilang tanpa jejak setelah hanya tiga hari bekerja.

Tanpa uang sepeser pun dan persediaan makanan yang kian menipis, kelima pria ini terjebak di antah berantah.

“Kami di sana sekitar sebulan. Makanan habis, pekerjaan tidak ada, mandornya kabur. Rasanya sudah pasrah, sudah putus harapan,” tutur Jaja.

Kabarnya, sang mandor kini berada di Batam, meninggalkan keringat mereka yang belum terbayar di bumi Papua.

Beruntung, dalam kondisi kritis tersebut, mereka berhasil bergabung dengan rombongan dari Jayapura untuk mencari perlindungan hingga akhirnya kabar mereka sampai ke telinga Pemerintah Daerah.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyatakan rasa syukur yang mendalam atas selamatnya kelima warga Wado tersebut.

Load More