Wakos Reza Gautama
Selasa, 24 Maret 2026 | 10:21 WIB
Kecelakaan di Jalan Raya Pangandaran, tepatnya di kawasan Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Senin (23/03/2026) sore, merenggut satu nyawa. [harapanrakyat/ist]
Baca 10 detik
  • Kecelakaan tunggal terjadi pada 23 Maret 2026, pukul 16.30 WIB, di Desa Ciganjeng, Pangandaran, merenggut satu korban jiwa.
  • Penyebab utama kecelakaan adalah sopir minibus Suzuki Carry yang kehilangan kendali saat mencoba mendahului bus.
  • Akibat kelalaian tersebut, minibus berisi 18 penumpang asal Tasikmalaya mengalami kecelakaan fatal, menyebabkan satu tewas dan tiga luka berat.

SuaraJabar.id - Jalan Raya Pangandaran kembali meminta tumbal darah di aspalnya. Senin sore (23/3/2026), sebuah ambisi untuk mendahului kendaraan lain berujung pada malapetaka yang menghancurkan tawa sebuah rombongan.

Kecelakaan maut yang merenggut satu korban jiwa ini pecah di kawasan Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Tepat saat jarum jam menunjuk pukul 16.30 WIB, sebuah minibus jenis Suzuki Carry berwarna putih (nopol AB 8690 BT) mendadak hilang kendali bak gasing di tengah jalan raya.

Tragisnya, mobil nahas tersebut dijejali oleh 18 orang penumpang, sebuah kapasitas muatan yang sangat tidak wajar (diduga kuat overload) untuk ukuran kendaraan roda empat kelas menengah.

Rombongan warga asal Tasikmalaya ini diketahui tengah dalam perjalanan dari arah Kota Banjar, memacu kendaraan menuju destinasi wisata Pangandaran.

Pihak kepolisian setempat membeberkan kronologi detik-detik mengerikan yang terekam dari keterangan saksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petaka ini murni bermula dari kelalaian manusia (human error).

Sopir Suzuki Carry, Wawan Anwar Sanusi (57), merasa laju kendaraannya terhambat. Dengan belasan nyawa di kabin belakangnya, Wawan nekat menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mendahului sebuah bus besar yang melaju lambat di depannya.

Namun, perhitungan pria paruh baya itu meleset jauh. Saat proses manuver menyalip sedang berlangsung, kendaraan yang sarat muatan itu kehilangan titik keseimbangan dan oleng tajam memakan lajur kanan jalan.

Jantung belasan penumpang seakan copot ketika dari arah berlawanan, muncul kendaraan lain yang melaju kencang. Berada dalam bayang-bayang benturan frontal (adu banteng) yang mematikan, Wawan panik. Secara spontan, ia membanting keras setir kemudinya kembali ke arah kiri.

Baca Juga: Tragedi Ujunggenteng 3 Nyawa Melayang, Penyelamat Ayah dan Anak Ditemukan Nelayan Pagi Ini

Nahas, manuver mendadak dalam kecepatan tinggi itu menjadi pukulan knockout bagi mobil tersebut. Bodi Carry putih itu terpelanting liar, hilang kendali sepenuhnya, hingga menciptakan kecelakaan tunggal yang sangat fatal.

Dampak dari hempasan keras tersebut sungguh menyayat hati. Suasana sore yang tenang di Padaherang seketika dipenuhi jerit tangis dan rintihan kesakitan dari 18 orang yang saling bertumpuk di dalam kabin mobil yang ringsek.

Buku laporan kepolisian mencatat satu nama dengan tinta hitam. Seorang penumpang perempuan bernama Nadila dilaporkan tewas mengenaskan, menghembuskan napas terakhirnya tepat di atas aspal lokasi kejadian.

Dua penumpang remaja lainnya harus menanggung cacat fisik akibat luka berat. Sifa (16) menderita patah tulang lengan kanan yang parah, sementara Rachel (15) menjerit kesakitan akibat patah tulang di bagian kaki kirinya.

Sang sopir maut, Wawan, secara ajaib lolos dari maut. Ia dievakuasi warga dengan kondisi wajah bersimbah darah akibat luka robek pada pelipis kiri, serta serangkaian luka lecet di bagian tangan dan kakinya.

Sisa 14 penumpang lainnya dilaporkan mengalami syok berat dan luka ringan, dan langsung dilarikan secara massal untuk mendapatkan perawatan medis darurat.

Load More