Wakos Reza Gautama
Rabu, 25 Maret 2026 | 17:03 WIB
Perjalanan mudik melelahkan bagi Nia (33), warga Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, bersama suami dan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun, harus bertahan di tengah kemacetan ekstrim, pada Senin (23/3/2026). [sukabumiupdate]
Baca 10 detik
  • Keluarga Nia (33) terjebak macet ekstrem di jalur alternatif Cikidang pada Senin sore (23/3/2026) saat arus balik dari Simpenan menuju Parungkuda.
  • Kemacetan parah mencapai puncaknya di Tanjakan Pasir Bilik sekitar pukul 19.00 WIB, menyebabkan motor mereka *overheat* dan kesulitan mencari logistik dasar.
  • Setelah terjebak hingga dini hari, mereka mengikuti saran polisi memutar balik arah, dan akhirnya tiba di Parungkuda Selasa pagi pukul 08.00 WIB.

Nia menyebut, di titik mereka terjebak, hanya ada satu warung kayu kecil yang berdiri. Tak butuh waktu lama, seluruh persediaan makanan dan minuman ringan ludes disapu bersih oleh gerombolan pemudik yang panik.

“Sekitar jam 9 malam, jangankan makan, kita mau cari air mineral (Aqua botol) buat minum anak saja udah sold out (habis total). Yang lewat sesekali cuma tukang kopi keliling, itu juga sisanya tinggal sedikit karena langsung jadi rebutan,” tuturnya getir.

Krisis tak berhenti di urusan perut. Kondisi air untuk buang hajat pun sangat memprihatinkan. Demi buang air kecil, Nia bahkan harus membuang rasa sungkan, mengetuk pintu rumah penduduk setempat hanya untuk menumpang ke kamar mandi (WC) karena fasilitas umum nihil air.

Lelah yang mendera tak lagi bisa diajak kompromi. Menggendong anak laki-lakinya yang baru berusia 5 tahun, Nia harus menahan tangis melihat kondisi keluarganya.

Di tengah dinginnya aspal dan ancaman hujan, mereka tak punya pilihan selain merebahkan tubuh di pinggir jalan yang keras.

“Saking lamanya macet dan udah nggak kuat lagi berdiri, saya akhirnya terpaksa tidur ngampar di atas trotoar. Yang bikin saya sedih banget, anak saya sampai tidur di pinggiran selokan (parit kering) karena matanya udah nggak kuat ngantuk kecapekan,” lirih Nia.

Waktu seakan berjalan mundur. Baru sekitar pukul 23.00 WIB, roda kendaraan kembali berputar perlahan, itu pun murni berkat inisiatif dan pengaturan jalan dari warga lokal setempat.

Setitik harapan baru muncul saat jarum jam menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Penerangan jalan kembali menyala secara perlahan, dan petugas kepolisian dari Satlantas mulai terlihat menyisir lokasi, mencoba mengurai "benang kusut" raksasa tersebut.

Menjelang masuknya waktu Subuh, sekitar pukul 03.30 WIB pagi, aparat kepolisian yang bertugas akhirnya memberikan ultimatum rasional. Mereka menyarankan para pengendara roda dua untuk segera menyerah dan memutar balik arah kendaraannya.

Baca Juga: Nekat Nyalip! Pikap L300 Terbang Tembus Trotoar dan Terguling Beda Jalur di Flyover Cisaat

“Polisi yang keliling bilang, mending puter balik sekarang. Jangan paksakan diri nunggu lewat sini (Tanjakan Bilik), karena di jalur atas (bottleneck depan) masih banyak banget antrean mobil mogok yang nutupin jalan,” kenang Nia.

Tanpa banyak protes, keluarga kecil ini akhirnya memutuskan untuk menyerah kalah pada keganasan Cikidang. Mereka memutar arah dan memilih "mengalah" mengambil rute jalur arteri alternatif lain (via Simpang Ratu/Warungkiara) yang konturnya lebih landai.

Keputusan pahit itu berbuah manis. Meski harus menelan pil pahit menambah jarak tempuh berkali-kali lipat lebih jauh, perjalanan rute memutar tersebut terbukti jauh lebih lancar dan mengalir.

Mereka kembali memacu gas pada Selasa pukul 04.00 WIB Subuh, dan akhirnya berhasil menjatuhkan diri di kasur empuk kediaman mereka di Parungkuda tepat pada pukul 08.00 WIB pagi dalam kondisi utuh dan selamat.

Artikel ini telah ditayangkan di website sukabumiupdate.com media jaringan Suara.com dengan judul "Kisah Nia: Terjebak Macet Ekstrem di Jalur Cikidang, Anak Kelelahan Terpaksa Tidur di Selokan"

Load More